Berita Internasional

Arca Mahakala Kerajaan Singasari Seberat 1,2 Ton Dipajang di Museum Leiden Belanda

Arca seberat 1,2 ton itu satu di antara lima koleksi patung masterpiece dari masa kejayaan Kerajaan Singasari pada abad 13

Tayang:
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Mona Kriesdinar
Rijksmuseum van Oudheden
Staf museum memindahkan arca Mahakala dari era Kerajaan Singasari ke pintu masuk ruang koleksi Indonesia, Selasa (10/4/2018) waktu Leiden, Belanda. 

Wajah Mahakala yang lebar memiliki mata yang sedang, hidung yang pesek melebar, dan bibir bawah yang tebal dengan taring dari rahang atas.

Dua Mahakala itu bertelanjang dada dengan mengenakan kalung yang melilit leher pendeknya, berkain dengan lipatan besar berkumpul di bawah pusar, dengan posisi kepala tegak dan berwajah tenang.

Tangan kanannya menghunus pedang yang menghadap ke bawah, sedang tangan kirinya mencengkeram ujung dari senjata gada yang menyentuh tanah.

Kedua kaki Mahakala agak terbuka, menandakan tubuh yang waspada dan siap berperang kapanpun ancaman muncul.

Dalam keterangan koleksi, Kerajaan Singasari adalah asal kedua arca Mahakala, pada abad ke-13.

Mahakala, sang penjaga pintu candi, selain Nandiswara. Mahakala berdiri di sebelah kiri pintu candi dan Nandi bersimpuh di sebelah kanan candi. 

Staf museum memindahkan arca Mahakala dari era Kerajaan Singasari ke pintu masuk ruang koleksi Indonesia, Selasa (10/4/2018) waktu Leiden, Belanda
Staf museum memindahkan arca Mahakala dari era Kerajaan Singasari ke pintu masuk ruang koleksi Indonesia, Selasa (10/4/2018) waktu Leiden, Belanda (Facebook Rijksmuseum van Oudheden)

Dalam mitos agama Hindhu Siwa, Mahakala dan Nandi adalah penjaga Gunung Kailasa. Mahakala, si perwujudan Siwa dalam rupa menyeramkan yang merefleksikan sebagai penghancur dunia.

Konon, koleksi-koleksi indah dari Singasari ini diangkut Gubernur Kolonial Pantai Timur Laut Jawa, Nicolaus Engelhard pada 1803. Mula-mula diboyong dari Candi Singasari ke kantornya di Semarang.

Setahun kemudian, kelima arca itu dibawa ke Batavia atau Jakarta. Sekitar 1819, kelima arca itu dikapalkan ke tanah air barunya, Belanda; dan tersimpan sebagai koleksi di Rijksmuseum voor Volkenkunde, Leiden. 

Sebenarnya ada satu patung masterpiece juga yang diangkut ke Leiden, yaitu arca Dewi Pradjnaparamita.

Sosok ini kerap diidentikkan dengan Ken Dedes, istri Akuwu Tumapel yang kemudian direbut Ken Arok setelah Tunggul Ametung terbunuh.

Namun pada 1972, patung Dewi Pradjnaparamita ini dikembalikan ke tanah air, dan kini jadi koleksi masterpiece di Museum Nasional Jakarta.(Tribunjogja.com/xna)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved