Faktor Reproduksi dan Hormonal Merupakan Faktor Risiko pada Proses Perkembangan Kanker Ovarium
Prof Heru menambahkan, di titik inilah teknologi baru untuk deteksi stadium awal kanker ovarium sangat diperlukan.
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Noristera Pawestri
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Dalam sambutan pidato Pengukuhan Guru Besar FKKMK UGM pada Rabu (28/2/2018), Prof Dr dr Heru Pradjatmo MKes SpOG(K) menyampaikan, tes protein darah (CA-125) yang merupakan penanda tumor, dirasa masih kurang cukup sensitif untuk tes pemeriksaan kanker ovarium.
Prof Heru melanjutkan, lebih dari 85 persen perempuan dengan stadium lanjut terjadi kenaikan kadar protein darah.
"Akan tetapi hanya 50 persen perempuan dengan kanker ovarium stadium awal yang terdapat kenaikan," ujar Prof Heru.
Prof Heru menambahkan, di titik inilah teknologi baru untuk deteksi stadium awal kanker ovarium sangat diperlukan.
"Kemajuan lebih lanjut bidang kedokteran seperti proyek genome manusia harapannya bisa memberikan kesempatan baru untuk mengembangkan alat diagnostik dan terapi target gen yang lebih baik,” tuturnya.
Prof Heru menyampaikan, bahwa diagnosis awal kanker ovarium tidak mudah.
"Secara fisik, letak ovarium yang sulit dijangkau yakni terletak dalam panggul di antara organ dalam (viscera), tidak dapat dilihat secara langsung, sehingga pengambilan sampel dari jaringan ovarium tidak mungkin dilakukan tanpa dilakukan dengan prosedur invasif,” jelas Prof Heru.
Kanker oravium sering disebut Silent Lady Killer yang jarang ditemukan pada stadium awal karena berkembang secara tersembunyi dan hampir tidak bergejala.
"Bila timbul gejala klinis umumnya merupakan akibat dari pertumbuhan, perkembangan serta komplikasi yang sering timbul pada tingkat stadium lanjut," kata Prof Heru.
Faktor reproduksi dan hormonal disebut-sebut sebagai faktor risiko yang berpengaruh pada proses perkembangan kanker ovarium.
"Akan tetapi, dari hasil penelitian pola persebaran penyakit pada populasi di masyarakat menunjukkan bahwa faktor genetik, lingkungan dan gaya hidup memungkinkan untuk meningkatkan bahkan menurunkan risiko terjadinya penyakit ini," imbuhnya. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/rapat-guru-besar_20180328_110515.jpg)