Seorang Geolog Ciptakan Varietas Padi Don Bejo, Hanya Butuh 75 Hari untuk Panen
Tak tanggung-tanggung, dia kawinkan enam indukan padi yang punya keunggulan masing-masing
Penulis: sis | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Sejumlah petani di Desa Kertirejo Selomartani Kalasan Sleman mulai bisa memanen padi varietas baru, bernama padi Don Bejo.
Varietas ini merupakan hasil riset bio-remidiasi selama tiga tahun terakhir.
Kesibukan petani memanen padi varietas baru ini tampak di lahan seluas kira-kira satu hektare di selatan puncak Merapi wilayah tersebut.
Di antara para petani itu, dialah Lesto Prabhancana Kusumo, otak di balik mencuatnya varietas tanaman padi jenis Don Bejo itu.
Don Bejo bukanlah nama asing yang diberikan Lesto, melainkan lokasi penanaman untuk riset ini berada di antara Dusun Sindon, Dusun Samberejo, dan Dusun Kertirejo.
Sehingga terbentuklah akronim Don Bejo. Selain itu, nama Don Bejo sendiri memiliki arti sebagai raja yang beruntung.
Baca: Podo Puzu, Ritual Mistis Mengusir Binatang Jahat Perusak Padi
Dari cerita Lesto, sejatinya dia bukanlah seorang petani.
Lesto merupakan geolog yang banyak bergelut di dunia teknik perminyakan.
Namun, kesukaannya pada dunia tanam-menanam utamanya padi membuat hati kecilnya tergerak untuk turun ke sawah.
Memberi harapan pada petani dengan cara menciptakan varietas padi jenis baru.
Mulanya Lesto melakukan riset dengan cara mengawinkan enam jenis padi yang memiliki kekuatan dan keunggulan di masing-masing jenisnya. Riset itu pertama kali dilakukan pada medio 2014 silam. "Riset ini didasari dari banyak kegagalan tanam dan panen padi dari para petani," kata Lesto kepada Tribun Jogja, Rabu (21/3/2018) pagi.
Atas dasar itu, Lesto kemudian mengutak-atik bermacam cara yang tak lain untuk menciptakan padi jenis baru ini.
Tak tanggung-tanggung, dia kawinkan enam indukan padi yang punya keunggulan masing-masing. Seperti misalnya sifatnya yang pulen tahan penyakit tapi usia rata, dikawinkan dengan padi yang tahan penyakit, tahan hama, tapi usianya panjang.
"Dulu waktu saya bikin benihnya, memang targetnya tahan hama, cuaca, dan penyakit," lanjutnya.
Baca: Hasil Panen Padi Hibrida di DIY Capai 10 Ton Per Hektare
Di samping itu, Lesto memimpikan bibit padi yang dihasilkan nanti bisa dipanen di rentang waktu yang pendek.

Yakni selama 80-85 hari saja. Selain itu, Lesto juga mendambakan bibit baru ini bisa hidup subur meskipun tak diberi asupan pupuk kimia, mengingat lahan yang digunakan untuk melakukan riset ini berada di lahan kritis yang berpasir.
Hanya 75 hari
Hingga akhirnya padi bernama Don Bejo itu lahir.
Don Bejo yang merupakan padi organik ini diklaim mempunyai rasa yang lebih enak dari beras mentik wangi.
Selain itu, Don Bejo juga mempunyai keunggulan dibandingkan dengan beras lainnya.
Misalnya tahan terhadap serangan hama, utamanya wereng. Tentunya bisa tumbuh subur di lahan kritis sekali pun.
"Musuh utama Don Bejo adalah burung. Pernah pula ada kejadian di kanan kiri padi milik para petani itu meranggas. Namun, Don Bejo tetap tumbuh subur dan bisa dipanen," jelasnya.
Baca: Kementan Larang Petani Budidaya Padi Hitam dari Luar Negeri
Lesto menambahkan, pertama kalinya padi Don Bejo ditanam pada 5 hingga 10 Januari 2018 silam dan padi ini bisa dipanen pada 19 hingga 20 Maret 2018.

Namun, fakta bicara lain. Usia panen waktu itu yang memang didesain 80 hingga 85 hari.
Di tahun keempat ini Lesto patut berbangga.
Pasalnya, padi Don Bejo hanya membutuhkan waktu 70 hingga 75 hari untuk bisa dipanen.
"Bila dihitung masa semai/sebar, menurut klasifikasi Balai Besar Penelitian Tanaman Padi, padi Don Bejo masuk pada Ultra Genjah karena usia panen kurang dari 90 HSS (Hari Setelah Sebar/Semai)," urai Lesto.
Lesto menyimpulkan, dengan masa panen selama 75 hari bila diaplikasikan pada persawahan dengan irigasi yang mencukupi, artinya padi Don Bejo bisa empat kali panen.
Sedangkan untuk tadah hujan bisa tiga kali panen. Dua kali musim hujan dan sekali musim gaduh.
"Kalau untuk musim air irigasi yang bagus setahun bisa nanam enam kali, artinya petani diuntungkan," ujar pria yang juga merangkap sebagai narasumber mitigasi risiko dan kebencanaan di Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan.
Baca: Padi Hitam Mulai Muncul di Kulonprogo
Lesto melanjutkan, dari hasil aktual panen tahap pertama tempo hari, padi Don Bejo pada lahan berpasir dengan luasan kurang dari 0.5 hektare didapat hasil 3.42 ton, kondisi bersih dan gambrangan/merang sisa panen yang tidak banyak.
Potensi
Apalagi kalau ini diterapkan oleh petani konvensional.
Tentunya bila diterapkan pada pertanian konvensional dengan pemupukan berimbang, diyakini potensi panen akan sangat baik dan lebih optimal.
Dimungkinkan dalam 1 hektare bisa didapati hasil panen sampai 8 ton gabah.
Saat ini pun, Don Bejo telah diujicobakan di Jember, Jawa Timur.
Hasil di sana pun terbilang cukup bagus.
Selain itu Don Bejo juga tengah diuji coba di Bali.
"Bagi mereka yg membutuhkan selama benih tanam tersedia, ya saya kirimkan," tutur Lesto.
Kendati demikian, saat ini Lesto belum mau memasarkan beras ciptaannya.
Lesto mempersilakan siapa pun yang ingin mencoba beras Don Bejo.
"Saat ini, saya orientasinya benih ini bisa tersebar di masyarakat, bisa menghasilkan. Kalau gagal nggak merugikan negara kalau berhasil ya masyarakat senang," timpalnya.
Baca: Hasil Produksi Padi di Sleman Terus Surplus
Sembari berharap kemunculan Don Bejo ini bisa menggugah para pemuda untuk mau turun ke dunia pertanian.
Lantaran padi ini tidak banyak menyita waktu dalam perawatannya.
"Dengan model critical seperti ini tentunya bisa mengajak mereka untuk tilik sawah di sela waktu senggang mereka, karena ini nggak perlu rabuk, ini tidak perlu biaya tinggi," jelasnya.
Di sela waktu senggangnya, Lesto lebih banyak menghabiskan waktu untuk pergi ke sawah.
Bersama sejumlah petani setempat dia terus menanam dan mengembangkan Don Bejo.
Bagi Lesto, sawah adalah tempat di mana dia bisa menemukan gairah dan keseimbangan di tengah masifnya pertumbuhan pembangunan. (TRIBUNJOGJA.COM)