Wiji Kecil Harus Transplantasi Hati

Betapa syoknya Rini ketika dokter menvonis bahwa putri kecilnya mengalami Varises Esofagus atau aliran darah menuju hati terhalang oleh penggumpalan

Penulis: Siti Umaiyah | Editor: Ari Nugroho
Dok Rini Pujiastuti
Kondisi Wiji saat dirawat di RSUD dr. Moewardi pada pertengahan Februari lalu 

Laporan Calon Reporter Tribun Jogja – Siti Umaiyah

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sudah lebih dari sebulan yang lalu, Wiji Pinilih, gadis kecil yang baru berusia 2 tahun 2 bulan ini di vonis mengalami gangguan fungsi hati akut akibat sirosis.

Pertengahan Februari 2018, Wiji harus berbaring di rumah sakit selama 2 minggu lamanya akibat beban kerja hati melampaui batas toleransi, sehingga mengalami kerusakan hati dan berakibat sirosis.

Ibu Wiji, Rini Pujiastuti (44) yang tinggal di jl. Juanda-Jenglong, Rt 2/2 Bejen, Karanganyar, Jawa Tengah, mengungkapkan, anak perempuannya awalnya hanya mengeluarkan feses yang bercampur dengan darah.

Baru kemudian di hari ketiga muntah yang juga bercampur dengan darah.

“Hari ketiga, saya bawa ke RSUD dr. Moewardi dan posisinya juga muntah disertai darah. Awalnya saya berpikir setelah dibawa ke RS akan sembuh dengan sendirinya, dan ternyata dokter berkata lain,” terang Rini, Jumat (23/3/2018).

Baca: Kegagalan Transplantasi Ginjal Hanya 5 Persen

Betapa syoknya Rini ketika dokter menvonis bahwa putri kecilnya mengalami Varises Esofagus atau aliran darah menuju hati terhalang oleh penggumpalan atau jaringan parut pada hati.

“Saya syok ketika dokter mengatakan bahwa ada gangguan dalam hati anak saya. Dokter menyimpulkan bahwa anak saya mengalami sirosis dan harus diambil sampel hatinya. Jalan satu-satunya untuk menyembuhkannya adalah dengan transplantasi (pencangkokan) hati,” terangnya.

Seminggu lamanya Rini berusaha untuk mengendapkan pikiran dan menenangkan diri.

Baru kemudian dia bisa mulai memikirkan tindakan apa yang akan dilakukannya agar putri kecilnya sembuh.

Saran dan informasi banyak dia dapatkan baik dari keluarga, teman maupun membaca artikel-artikel.

Baru kemudian dia yakin bahwa dia harus melangkah untuk mengambil tindakan pencangkokan hati pada anaknya sesuai dengan yang disarankan oleh dokter.

“Saya tahu, biaya untuk transplantasi hati tidaklah murah. Saya baca-baca mungkin sekitar 900-1,2 milyar. Itu mungkin belum termasuk biaya pemulihannya,” ungkapnya.

Rini mengaku sehari-hari dia hanya menjadi ibu rumah tangga. Sedangkan suaminya, Sigit Purwanto bekerja sebagai freelance yang tidak tentu penghasilannya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved