Bantul Kekurangan Armada Pengangkut Sampah
Kaitan sampah di aliran sungai di DIY, memang perlu ada kesadaran masing-masing kabupaten dan kota untuk mengatasinya.
Penulis: Susilo Wahid Nugroho | Editor: Ari Nugroho
Diterapkan sistem jaga dua shift per hari untuk membersihkan sampah juga mengawasi aktivitas pembuangan sampah ke sungai.
Baca: Mengubah Sampah Menjadi Rupiah
Di luar upaya memaksimalkan tenaga lapangan, Dwi berharap pemerintah tak hanya Bantul namun juga Sleman dan Yogyakarta serius merespon masalah sampah.
"Termasuk Kartamantul yang harusnya lebih maksimal mengeluarkan kebijakan dan program untuk penanggulangan sampah," kata Dwi.
Dosen Fakultas Teknologi Pertanian Universitas Gadjah Mada (UGM) Yogyakarta, Sigid Supadmo Arif melihat sampah ini menjadi masalah yang harus dipecahkan bersama.
Kaitan sampah di aliran sungai di DIY, memang perlu ada kesadaran masing-masing kabupaten dan kota untuk mengatasinya.
"Tidak bisa daerah yang berada di hilir menyalahkan daerah hulu terkait sampah. Tapi daerah hulu juga harus memaksimalkan upaya mengatasi sampah. Semua harus bersinergi karena sudah terikat dalam aliran sungai," kata Sigid yang ahli dalam bidang Tehnik Manajemen Irigasi ini.
Upaya mengatasi sampah ini menurut Sigid sebenarnya bisa dilakukan dengan berbagai cara.
Ia sendiri lebih mendorong masing-masing individu agar sadar untuk tidak membuang sampah sembarang tempat.
Paling tidak, kesadaran ini dimulai dari dalam diri sendiri.
Pemerintah daerah sampai tingkat desa yang juga harus mengajak masyarakat dan warganya mengatasi sampah.
"Memunculkan gerakan-gerakan bersih sampah di sungai bisa jadi cara bagus, atau menghidupkan tradisi lokal kaitannya dengan kebersihan sungai," kata Sigid. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/desa-peduli-smapah-bantul_20180321_162624.jpg)