Derita Petani Cabai, di Saat Harga Tinggi, Hama Patek Malah Menyerang
Derita petani cabai, di saat harga tinggi, hama patek malah menyerang tanaman sehingga membuat hasil panenan menurun.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
Namun, lantaran banyak tanaman cabai yang mati, hasil panennya tidak memuaskan.
"Dari kemarin kan harga cabai bagus ya. Kemarin terakhir saya jual di pengepul harganya Rp 35 ribu perkilogram. Awalnya malah bisa tembus Rp 50 ribu perkilogram. Tapi ya itu dia, harganya lagi bagus, tanaman cabai malah justru banyak yang mati," ungkap Yuni sedikit kesal.
Padahal ia berharap tahun ini bisa menikmati hasil melimpah dari tanaman cabai, namun, apa dikata, tanaman cabai yang diharapkan bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah justru banyak yang gagal panen.
"Kalau cabai kan bisa panen berkali-kali, biasanya di lahan saya ini (2000 meter persegi) bisa menghasilkan 1 ton lebih jika dihitung keseluruhan. Tapi sekarang 1 kwintal aja susah. Sekali panen paling banyak hanya 5 kilogram, kadang 15 kilogram," tuturnya.
"Kalau panennya melimpah kan saya bisa buat balik modal, sama uang lebihnya bisa buat beli apa-apa," imbuh dia.
Untuk menanam cabai di lahan 2000 meter persegi, Yuni mengaku sudah mengeluarkan modal sekira Rp 8 juta rupiah.
Modal itu ia keluarkan untuk pengolahan tanah, beli bibit, perawatan hingga biaya tenaga kerja.
Namun, disaat tengah menikmati hasil panen, ternyata tanaman cabai miliknya banyak yang terjangkit penyakit patek.
Imbasnya, berpengaruh pada menyusutnya hasil panen.
"Mau bagaimana lagi mas, saya sudah usaha, diapa-apain tetep nggak bisa," terangnya pasrah.
Kendati demikian, meski tanaman cabai miliknya banyak yang mati, Yuni masih bisa bersyukur lantaran harga komoditas cabai masih terbilang cukup tinggi.
"Walaupun hasil panennya sedikit, tapi harganya mahal nanti mudah-mudahan bisa menutup modal," ungkap dia. (tribunjogja)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/hama-patek-hantui-petani-cabe-di-bantul_20180320_111544.jpg)