Derita Petani Cabai, di Saat Harga Tinggi, Hama Patek Malah Menyerang
Derita petani cabai, di saat harga tinggi, hama patek malah menyerang tanaman sehingga membuat hasil panenan menurun.
Penulis: Ahmad Syarifudin | Editor: Hari Susmayanti
Laporan Reporter Tribunjogja.com, Ahmad Syarifudin
TRIBUNJOGJA.COM - Harga komoditas cabai rawit di pasaran pada pertengahan bulan Maret 2018 ini cukup menggemberikan bagi para petani.
Walaupun saat ini cenderung mengalami penurunan, namun sepekan terakhir harga cabai pernah mengalami trend kenaikan cukup menjanjikan menyentuh angka Rp 50 ribu rupiah perkilogram.
Namun sayang, disaat petani tengah menikmati hasil dengan harga cukup tinggi, petani akhirnya hanya gigit jari lantaran tanaman cabai miliknya banyak yang mati dan busuk.
Seorang petani cabai di Dusun Beji, Desa Sumberagung, Jetis, Bantul, Yuni, mengatakan, hama patek yang menyerang tanaman cabai rawit berlangsung cukup cepat.
Ia bercerita, hanya berselang kurun waktu tiga hari saja sebagian tanaman cabai miliknya, di lahan seluas 2000 meter persegi nyaris ludes diserang hama.
"Tiga hari kemarin masih cukup bagus. Hari ini saya tengok, pohonnya sudah pada layu, cabainya pada busuk," terang Yuni, ketika ditemui di sawah miliknya, Selasa (20/03/2018)
Panas sinar matahari yang terasa menyengat kulit tak dihiraukan.
Yuni bersama saudaranya terus mencabut satu persatu batang tanaman cabai yang layu dan mengering.
Tangannya terlihat cekatan menarik satu persatu tanaman cabai yang sebagian buahnya telah membusuk dan kering.
"Kalau pohon yang kena hama, nggak segera dicabut akan menyerang pada pohon yang lain," ucapnya.
Oleh karenanya, hari ini, ia seakan berburu dengan waktu mencabut batang pohon cabai yang terkena hama satu persatu supaya tidak menjangkiti pada pohon lainnya.
Batang-batang pohon cabai yang sudah dicabut ia kumpulkan jauh dari sawah yang ada tanaman cabai miliknya.
" Nanti kalau sudah kering, saya bakar," tegasnya.
Ia sendiri sebenarnya tengah menikmati harga cabai yang cukup bagus.
Namun, lantaran banyak tanaman cabai yang mati, hasil panennya tidak memuaskan.
"Dari kemarin kan harga cabai bagus ya. Kemarin terakhir saya jual di pengepul harganya Rp 35 ribu perkilogram. Awalnya malah bisa tembus Rp 50 ribu perkilogram. Tapi ya itu dia, harganya lagi bagus, tanaman cabai malah justru banyak yang mati," ungkap Yuni sedikit kesal.
Padahal ia berharap tahun ini bisa menikmati hasil melimpah dari tanaman cabai, namun, apa dikata, tanaman cabai yang diharapkan bisa menghasilkan pundi-pundi rupiah justru banyak yang gagal panen.
"Kalau cabai kan bisa panen berkali-kali, biasanya di lahan saya ini (2000 meter persegi) bisa menghasilkan 1 ton lebih jika dihitung keseluruhan. Tapi sekarang 1 kwintal aja susah. Sekali panen paling banyak hanya 5 kilogram, kadang 15 kilogram," tuturnya.
"Kalau panennya melimpah kan saya bisa buat balik modal, sama uang lebihnya bisa buat beli apa-apa," imbuh dia.
Untuk menanam cabai di lahan 2000 meter persegi, Yuni mengaku sudah mengeluarkan modal sekira Rp 8 juta rupiah.
Modal itu ia keluarkan untuk pengolahan tanah, beli bibit, perawatan hingga biaya tenaga kerja.
Namun, disaat tengah menikmati hasil panen, ternyata tanaman cabai miliknya banyak yang terjangkit penyakit patek.
Imbasnya, berpengaruh pada menyusutnya hasil panen.
"Mau bagaimana lagi mas, saya sudah usaha, diapa-apain tetep nggak bisa," terangnya pasrah.
Kendati demikian, meski tanaman cabai miliknya banyak yang mati, Yuni masih bisa bersyukur lantaran harga komoditas cabai masih terbilang cukup tinggi.
"Walaupun hasil panennya sedikit, tapi harganya mahal nanti mudah-mudahan bisa menutup modal," ungkap dia. (tribunjogja)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/hama-patek-hantui-petani-cabe-di-bantul_20180320_111544.jpg)