Kesaktian Raja Gusti Rangsasa dan Asal Usul Nama Jembrana Bali

Penuh aura mistis, mungkin demikian kesan pertama yang didapat ketika kali pertama mengunjungi Pura Ratu Gede Dewasana

Tayang:
Editor: Iwan Al Khasni
Tribun Bali / I Gede Jaka Santhosa
Pura Ratu Gede Dewasana di Banjar Kerta Sentana (Dewasana), Desa Pekraman Kertha Jaya Pendem, Kecamatan/Kabupaten Jembrana, Rabu (14/3/2018). 

Namun sayang, para pengawal raja ini tetap memaksa dan mengancam membunuh Dang Hyang Nirartha bila tak menuruti perintah raja.

Petaka pun terjadi ketika beliau bersiap-siap menyembah raja. Puri atau istana Raja I Gusti Rangsasa seketika hancur berantakan.

Mendapat kabar tersebut, Raja I Gusti Rangsasa kemudian melarikan diri ke arah utara bersama rakyat dan pengikutnya yang masih setia menembus hutan belantara.

Tempat pelarian yang melalui rawa-rawa (Jember) dan hutan (Wana) kemudian Jember Wana atau Jimbarwana yang kemudian diyakini menjadi nama daerah Kabupaten Jembrana.

Dalam pelarian tersebut, menurut Diandra banyak dari rakyat serta pengikutnya tersebut tersesat dan terpisah dari rombongan raja hingga akhirnya membuka pemukiman baru.

Satu di antaranya yaitu Banjar Dewasana yang berasal dari Pura Ratu Gede Dewasana, Banjar Pendem yang berasal dari Pura Ratu Gede Pendem serta Banjar Satria yang berasal dari Banjar Sebetan yang akhirnya tergabung dalam Desa Pendem.

Hingga akhirnya pada tahun 1981 silam, Desa Pendem ini ditingkatkan statusnya menjadi Kelurahan Pendem sehingga nama-nama banjar tersebut diganti menjadi Banjar Kertha Sentana (Dewasana), Banjar Kertha Budaya (Pancardawa), Banjar Kertha Asih (Pendem), dan Banjar Kertha Wisesa (Sebetan atau Satria).

Sementara itu, satu di antara Pengempon Pura Ratu Gede Dewasana, I Wayan Widastra mengatakan pura ini telah direnovasi sebanyak dua kali dan kini diempon sekitar 500 kepala keluarga (KK) warga setempat.

Selain penemuan peti berisikan busana Dewa Anak Agung tersebut, di pura tersebut juga sempat ditemukan barang-barang yang diyakini erat kaitannya dengan sejarah Raja I Gusti Rangsasa seperti sepasang gelang yang terbuat dari perak hingga sebuah terompet berukuran cukup besar yang terbuat dari kerang.

Bahkan, kata dia, di rumah seorang warga setempat ditemukan sebuah sarkofagus berukuran sekitar 100 x 50 sentimeter (cm).

Sarkofagus ini diyakini merupakan peninggalan kerajaan setempat yang digunakan sebagai makam bagi raja atau bangsawan.

Selain itu, sejumlah benda lainnya yang ditemukan di sekitar lokasi Pura Ratu Gede Dewasana ini yakni gundukan batu menyerupai menhir yang berada di ujung objek wisata Puncak Mawar.

Temuan-temuan ini juga sudah sempat dilaporkan dan telah disurvei Badan Arkeologi Bali beberapa waktu yang lalu.

“Pura Ratu Gede Dewasana ini dijaga ancangan Macan Putih dan Macan Hitam dan erat kaitannya dengan kerajaan-kerajaan di Jembrana. Odalan setiap enam bulan sekali, yaitu setiap Manis Buda Kliwon Wugu,” tandas Widastra yang pernah menjabat sebagai Kepala Lingkungan Dewasana. (*)

Sumber: Tribun Bali
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved