Kesaktian Raja Gusti Rangsasa dan Asal Usul Nama Jembrana Bali
Penuh aura mistis, mungkin demikian kesan pertama yang didapat ketika kali pertama mengunjungi Pura Ratu Gede Dewasana
TRIBUNJOGJA.COM, NEGARA - Banjar Adat Kertha Sentana yang berlokasi di ujung utara Desa Pekraman Kertha Jaya Pendem, Kecamatan/Kabupaten Jembrana menyimpan segudang cerita dan peninggalan bersejarah.
Konon, banjar ini terbentuk dari pelarian Raja Gusti Rangsasa yaitu seorang raja yang memerintah di kawasan pesisir di Kabupaten Jembrana.
Bahkan di Pura Gede Dewasana ditemukan sejumlah benda peninggalan kerajaan mulai dari peti berisikan busana kerajaan hingga sarkofagus.
Penuh aura mistis, mungkin demikian kesan pertama yang didapat ketika kali pertama mengunjungi Pura Ratu Gede Dewasana ini.
Konon pura ini didirikan pengikut setia Raja I Gusti Rangsasa yang sempat melarikan diri usai istananya di Desa Perancak, Kecamatan Jembrana diporakporandakan Dang Hyang Nirartha atau Ida Pedanda Sakti Wawu Rawuh.
Sejumlah peninggalan bersejarah sempat ditemukan warga di sekitar pura yang berlokasi di sebelah selatan objek wisata Puncak Mawar tersebut.
Bendesa Pekraman Kertha Jaya Pendem, I Wayan Diandra mengatakan keberadaan Pura Ratu Gede Dewasana ini dipercaya memiliki kaitan dengan sejumlah kerajaan di Jembrana dan Bali.
Banyak versi cerita sejarah terkait terbentuknya banjar yang lebih akrab disapa dengan Banjar Dewasana ini.
Satu di antaranya yakni adanya temuan peti yang berisikan busana Dewa Anak Agung yang diyakini sebagai pengikut Raja I Gusti Rangsasa di Pura Ratu Gede Dewasana.
Juga sejumlah penemuan barang bersejarah lainnya.
“Satu peti itu berisikan busana Dewa Anak Agung. Akhirnya lama kelamaan kawasan tersebut diberi nama Dewasana,” ungkap Diandra memulai ceritanya kepada Tribun Bali (TRIBUN-network), Rabu (14/3/2018).
Dulu, konon Raja I Gusti Rangsasa yang terkenal sakti mandraguna ini memerintah kerajaannya ini dengan peraturan yang sangat ketat.
Bahkan, untuk bisa masuk atau melintasi wilayahya (kini bernama Desa Perancak) warga diharuskan tunduk kepada sang raja.
Hingga suatu saat datanglah Dang Hyang Nirartha ke lokasi ini yang kemudian dicegat para pengawal Raja I Gusti Rangsasa.
Beliau sempat menolak ketika diminta menyembah sang raja dengan alasan jika menyembah manusia maka kerajaannya akan runtuh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kisah-kesaktian-raja-gusti-rangsasa-dan-asal-usul-nama-jembrana_20180315_150821.jpg)