Kisah Pengrajin Warangka: Keris dari Keraton Diperlakukan Khusus

Berawal dari membantu sang ayah, Ia lama-lama menjadikan profesi ini sebagai kesibukan utama.

Kisah Pengrajin Warangka: Keris dari Keraton Diperlakukan Khusus
TRIBUNJOGJA.COM / Susilo Wahid
Murgianto, saat mengerjakan pembuatan warangka keris di rumahnya di Teruman, Kresen, Bantul, Jumat (23/2/2018). 

TRIBUNJOGJA.COM, BANTUL - Menjadi pengrajin Warangka (sarung keris) tak pernah terbayang di benak Murgianto (48).

Berawal dari membantu sang ayah, Harjo Suwarno yang lebih dulu menggeluti dunia keris, Ia lama-lama menjadikan profesi ini sebagai kesibukan utama.

Dan kini meski terjadi pasang surut peminat keris, Murgianto masih mengandalkan asa dari profesinya ini.

Namun ayah Murgianto telah meninggal sejak dua tahun lalu.

Seperangkat alat untuk membuat warangka milik ayahnya dulu mulai dari gergaji runcing, ketam tangan, pethel, bor manual, penghalus dan printilan lainnya diwarisi oleh Murgianto.

Dan juga ilmu membuat warangka, yang kini menular padanya.

Baca: Kisah Pengrajin Warangka Keris: Semakin Sulit Mencari Pohon Tua untuk Bahan

Sedianya, Murgianto muda hanya memulai pertemuannya dengan alat warangka keris di akhir pekan.

Maksud dan tujuannya kala itu adalah mendapat uang jajan dari alm sang ayah.

Karena dengan membantu membuat warangka, berarti mendapat komisi dari sang ayah jika warangka laku dijual.

Halaman
1234
Penulis: sus
Editor: Ari Nugroho
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved