Nasib Becak Tradisional di Yogya
Zonasi Solusi Cegah Kepunahan Becak Tradisional di Yogya
keberadaan Betor di kawasan Malioboro semakin hari semakin bertambah, sementara becak tradisional makin tersingkir.
Lebih tegas
Selain zonasi, becak kayuh di Yogyakarta sebenarnya menyayangkan sikap pemerintah yang dinilai tidak tegas mengatasi permasalahan ini. Ketua Paguyuban becak kayuh DIY, Paimin menjelaskan, di DIY saat ini masih ada 3.500 becak yang tetap menggunakan becak kayuh.
Dari jumlah tersebut, ia berharap pemerintah lebih peduli agar jumlahnya tak terus menyusut. Menurutnya, satu-satunya cara untuk melindungi becak tardisional adalah dengan kebijakan yang tegas.
”Namun, saat ini operasi dan penindakan pada Betor kurang tegas. Ini menjadi ancaman serius karena dulu (adanya betor) hanya dibiarkan saja oleh pemerintah setempat, ” tegasnya.
Apalagi, ia melihat banyak becak dari luar yang masuk ke Yogya yang kemudian diubah menjadi Betor. Hal ini mengakibatkan ciri khas becak di Yogya menjadi hilang.
”Persoalan ini tentu saja menimbulkan gesekan antara kami dan betor yang sebelumnya adalah becak kayuh. Gubernur DIY perlu mengeluarkan larangan (pada betor), ” ungkapnya.
Paimin juga mempertanyakan janji Pemkot Yogya yang pernah menjanjikan adanya solusi untuk masalah ini. Solusi tersebut adalah hadirnya becak ramah lingkungan yang ditawarkan oleh pemerintah kota Yogyakarta. Solusi tersebut menurutnya pas, sebab memang sudah banyak rekannya penarik becak kayuh yang putus asa.
”Kami berharap becak alternatif ramah lingkungan ini dapat menjadi solusi. Yang lebih penting, proteksi dan keberlangsungan kami dapat dijamin oleh pemerintah, ” tegasnya. (TRIBUNjogja.com Agung Ismianto | Hening Wasisto)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/becak-wisata1_20150522_181317.jpg)