Nasib Becak Tradisional di Yogya
Zonasi Solusi Cegah Kepunahan Becak Tradisional di Yogya
keberadaan Betor di kawasan Malioboro semakin hari semakin bertambah, sementara becak tradisional makin tersingkir.
TIDAK semua pengemudi becak tradisional ingin beralih ke Betor. Djumali, pengayuh becak asal Pajangan, Bantul bisa jadi contoh. Meski harus menempuh puluhan kilo mengayuh becaknya dari Pajangan, Bantul untuk mencari penumpang, ia tetap bertahan tak tergoda beralih ke Betor.
Pria berusia 55 tahun ini pun tak menampik, Betor telah benar-benar menggerus penghasilannya. "Ya jelas berkurang. Dari kecepatannya saja, misal saya baru narik sekali, mereka (Betor) bisa dua sampai tiga kali," katanya pada Tribun Jogja.
Ia berharap upaya pemerintah melakukan revitalisasi Malioboro akan berpengaruh terhadap masa depan becak kayuh. "Sisi barat Malioboro kabarnya mau direvitalisasi lagi.
Yang saya tahu, nantinya kawasan tersebut hanya boleh dilewati becak kayuh, andong dan Trans Jogja. Itu yang membuat saya bertahan sampai sekarang," jelasnya.
Selain alasan tersebut, ia mengaku mengayuh becak menjadikannya lebih sehat dan lebih santai. "Ngayuh itu lebih sehat dan santai,” katanya.
Untuk itulah ia berharap pemerintah tetap konsisten dan serius membuat kebijakan zonasi untuk melindungi keberadaan becak kayuh. "Pemerintah harus membuat kebijakan yang jelas, becak ini boleh beroperasi di sini, dan yang lain tidak boleh, jangan dicampur seperti ini," harapnya.
Kepala Bidang Angkutan Darat Dishub DIY, Hari Agus Triyono menyampaikan, pihaknya akan lebih mengoptimalkan becak kayuh untuk mendukung wisata di Yogyakarta. Diantaranya adalah becak kayuh bisa diakomodasi oleh hotel dengan dana CSR.
”Nanti, kalau Malioboro sudah tertata dan full pedestrian yang bisa masuk hanya kendaraan tidak bermotor dan trans Jogja. Sehingga becak kayuh bisa optimal digunakan, ” tuturnya.
Baca: Becak Listrik Tenaga Surya Buatan SMK Piri Yogyakarta Ngacir di Malioboro
Betor menolak
Sayangnya, wacana zonasi yang diyakini bisa mempertahankan keberadaan becak tradisional ini sudah mendapat penolakan keras dari Betor. Jumlah mereka yang semakin banyak menjadikan alasan mereka memperjuangkan aspirasi, termasuk menolak untuk ditata.
"Jangan cuma Betor yang dilarang. Masih ada transportasi online yang jelas-jelas dibiarkan beroperasi. Kami ingin kepastian hukum," kata Ketua Paguyuban Becak Motor Yogyakarta (PBMY) Parmin.
Ia menjelaskan, hingga kini ada 300 Betor yang beroperasi di kawasan Malioboro. “Selama ini yang dilihat negatifnya saja, kami mohon dilihat sisi positifnya,” sambungnya.
Parmin tak memungkiri, saat ini banyak pengemudi becak kayuh yang beralih ke Betor, pasalmnya tak sedikit dari mereka yang sudah tidak kuat mengayuh karena umur yang semakin menua. Sementara mereka tetap harus mencari nafkah untuk keluarga.
Maka itu pihaknya tak ingin Betor dianggap sebagai transportasi ilegal. Pihaknya juga tengah memantau akan wacana pemerintah yang akan membuatkan zonasi Betor. "Kita akan lihat, kalau zonasi itu merugikan kami, kami tidak akan tinggal diam," jelasnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/becak-wisata1_20150522_181317.jpg)