Angin Kencang, Sejumlah Pohon di Sleman Tumbang
Sedikitnya terdapat tiga titik lokasi pohon tumbang. Namun tidak ada kerusakan yang cukup berarti.
Penulis: app | Editor: Ari Nugroho
"Siklon masih berpotensi muncul pada bulan Ferbuari hingga Maret ini, tapi di selatan equator hingga Australia," katanya, Selasa (6/2/2018).
Lanjutnya, meski ada potensi siklon di selatan equator pihaknya memprediksi tidak akan sampai memasuki wilayah Indonesia, khususnya di DIY.
Hal tersebut dikarenakan siklon berada di selatan equator dan jauh dari wilayah Indonesia, sehingga dimungkinkan wilayah Australia lah yang akan terkena dampak dari siklon tersebut.
"Di Indonesia jarang masuk siklon yang berasal dari selatan equator, malah hampir praktis tidak bisa masuk. Karena bisanya masuknya siklon ke Indonesia itu jika siklon minimal berada diatas lintang 5 derajat keatas," jelasnya.
Baca: Memasuki Puncak Musim Hujan, BMKG Yogyakarta Belum Deteksi Adanya Siklon
Ditambahkannya, meski diprediksi belum adanya siklon yang akan masuk ke Indonesia pada musim penghujan ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengingat adanya penguatan angin baratan yang banyak membawa massa udara basah masuk hingga ke bagian selatan equator.
Hal itu juga diperkuat dengan munculnya beberapa tekanan rendah di Samudera Hindia yang memicu kecepatan angin di selatan pulau Jawa termasuk Yogyakarta menjadi lebih besar.
Lebih lanjut, karena hal itulah membuat tinjauan pola angin terlihat membentuk pola konvergen berupa pumpunan angin yang memanjang dari pulau Sumatra Selatan hingga NTT.
Dimana hal tersebutlah yang berpotensi membentuk awan awan hujan termasuk di Yogyakarta.
"Hujan disertai petir dan angin kencang masih berpotensi muncul beberapa hari ini dan perlu diwaspadai, terutama siang menjelang sore hari. Meski saat ini masuk puncak musim hujan, kami belum mendeteksi munculnya siklon disekitar pulau Jawa," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/pohon-tumbang-di-sleman-3_20180130_150812.jpg)