Angin Kencang, Sejumlah Pohon di Sleman Tumbang

Sedikitnya terdapat tiga titik lokasi pohon tumbang. Namun tidak ada kerusakan yang cukup berarti.

Penulis: app | Editor: Ari Nugroho
Dok BPBD Sleman
Ilustrasi pohon tumbang. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Akibat hujan dan angin kencang tiga kecamatan di Kabupaten Sleman terdampak bencana angin kencang.

Kejadian tersebut terjadi pada Minggu (11/2/2018) sore.

Kepala Bidang Logistik dan Kedaruratan BPBD Sleman Makwan menjelaskan sedikitnya terdapat tiga titik lokasi pohon tumbang. Namun tidak ada kerusakan yang cukup berarti.

"Tidak ada kerusakan berarti. Laporan yang masuk baru di tiga titik lokasi," jelasnya.

Baca: Hujan Angin Parsial Masih Berpotensi Turun di DIY

Dari laporan yang masuk tersebut angin kencang menyebakan sebatang pohon tumbang di Gondang RT1 RW 13 Donokerto, Turi.

Selain itu di wilayah Ngepas Los RT1 RW 14, Donoharjo, Ngaglik, dua pohon juga tumbang.

Pohon tersebut sempat menutup akses jalan warga.

Hal yang sama juga terjadi di Kecamatan Mlati, pohon tumbang terjadi di Dusun Jongke Lor, RT 1 RW 26.

Akibatnya, pohon juga sempat menimpa kabel.

Namun dengan kesigapan petugas, kerusakan dapat dievakuasi

"Sudah dikondisikan. Kami masih menunggu laporan lebih lanjut," tegasnya.

Baca: Hujan Deras dan Angin Kencang Robohkan Baliho di Seturan

Sementara itu, Sarwono warga RT 5 RW 7 Bokoharjo Prambanan menjelaskan talut longsor yang terjadi Januari lalu di wilayahnya tepatnya di Kali Opak belum dilakukan perbaikan.

Longsoran pun semakin melebar mencapai empat meter dan tinggi 10 meter.

"Kami berharap agar segera diperbaiki," terangnya.

Sementara itu, Kepala Balai Besar Wilayah Sungai Serayu Opak (BBWSO) Tri Bayu Aji menjelaskan pihaknya telah menurunkan tim untuk melakukan perbaikan dilokasi tersebut.

"Tim sudah turun. Untuk sementara dikerjakan secara darurat dulu dengan sand bag," katanya.

Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Jogja Djoko Budiyono menjelaskan, selama Februari ini secara umum masih puncak musim hujan.

Di wilayah Jawa, khususnya DIY tinggi intensitas hujan disertai angin dan petir terjadi akibat pengaruh interaksi antara intensitas maksimum matahari yang posisinya di atas Jawa dengan kuatnya monsun Asia.

Baca: Imbauan BMKG : Diprediksi Terjadi Hujan Ekstrem di Daerah-daerah Ini Hingga Pertengahan Februari

Dari kondisi cuaca tersebut, Djoko menegaskan jika berpotensi terjadi hujan dengan intensitas sedang hingga lebat disertai petir dan angin kencang masih terjadi di DIY.

Dia menghimbau agar masyarakat tetap mewaspadai bencana alam akibat cuaca ekstrim seperti banjir, tanah longsor, pohon tumbang/baliho roboh serta sambaran petir.

"April diprediksi baru akan masuk pancaroba," katanya.

Beberapa hari lalu Badan Meteorologi, Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Yogyakarta memprediksi bahwa mulai awal hingga pertengahan bulan Februari ini telah memasuki puncak musim penghujan.

Selain itu, BMKG juga memprediksi bahwa beberapa hari ke depan, intensitas curah hujan akan mencapai 200 milimeter yang mana angka tersebut masuk kategori tinggi.

Walau saat ini memasuki puncak musim penghujan, BMKG Yogyakarta belum menemukan adanya indikasi terkait munculnya siklon seperti pada bulan November lalu, khususnya di DIY.

Baca: Mandi Air Dingin di Musim Hujan Bermanfaat untuk Kecantikan

Kepala Kelompok Data dan Informasi BMKG Stasiun Klimatologi Mlati Yogyakarta, Djoko Budiyono mengatakan bahwa terkait puncak musim penghujan saat ini memang belum ditemukan siklon yang hendak melintasi Indonesia khusunya di selatan pulau Jawa.

Meski demikian, menurut pengamatan pihaknya terdapat tropical cebille di selatan equator, tepatnya di barat daya pulau Jawa.

"Siklon masih berpotensi muncul pada bulan Ferbuari hingga Maret ini, tapi di selatan equator hingga Australia," katanya, Selasa (6/2/2018).

Lanjutnya, meski ada potensi siklon di selatan equator pihaknya memprediksi tidak akan sampai memasuki wilayah Indonesia, khususnya di DIY.

Hal tersebut dikarenakan siklon berada di selatan equator dan jauh dari wilayah Indonesia, sehingga dimungkinkan wilayah Australia lah yang akan terkena dampak dari siklon tersebut.

"Di Indonesia jarang masuk siklon yang berasal dari selatan equator, malah hampir praktis tidak bisa masuk. Karena bisanya masuknya siklon ke Indonesia itu jika siklon minimal berada diatas lintang 5 derajat keatas," jelasnya.

Baca: Memasuki Puncak Musim Hujan, BMKG Yogyakarta Belum Deteksi Adanya Siklon

Ditambahkannya, meski diprediksi belum adanya siklon yang akan masuk ke Indonesia pada musim penghujan ini, masyarakat diimbau untuk tetap waspada, mengingat adanya penguatan angin baratan yang banyak membawa massa udara basah masuk hingga ke bagian selatan equator.

Hal itu juga diperkuat dengan munculnya beberapa tekanan rendah di Samudera Hindia yang memicu kecepatan angin di selatan pulau Jawa termasuk Yogyakarta menjadi lebih besar.

Lebih lanjut, karena hal itulah membuat tinjauan pola angin terlihat membentuk pola konvergen berupa pumpunan angin yang memanjang dari pulau Sumatra Selatan hingga NTT.

Dimana hal tersebutlah yang berpotensi membentuk awan awan hujan termasuk di Yogyakarta.

"Hujan disertai petir dan angin kencang masih berpotensi muncul beberapa hari ini dan perlu diwaspadai, terutama siang menjelang sore hari. Meski saat ini masuk puncak musim hujan, kami belum mendeteksi munculnya siklon disekitar pulau Jawa," pungkasnya. (TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved