Menulusuri Jejak Penambangan Mangaan di Kliripan
Di dalam terowongan masih terdapat jejak penambangan mangaan, seperti potongan jalur rel lori pengangkut hasil tambang menuju permukaan luar gua.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Gaya Lufityanti
Menurutnya, saat itu produksi mangaan di Kliripan memang cukup tinggi, terbukti dari dua kali ekspor ke Jepang pada 1974 dan 1976 dengan kapasitas tiap pengiriman mencapai 40 ribu ton.
Hasil tambangnya dikirim lewat Cilacap melalui Stasiun Pakualaman di Kedundang.
Hanya saja, kadar mangaan yang ditambang hanya sekitar 45 persen, terbilang lebih sedikit ketimbang hasil penambangan di Ngruno, Pengasih yang saat itu jadi bahan baku pembuatan baterai di Tangerang.
"Mangaan di sini terlalu banyak kecampur besi jadi kurang layak untuk bikin baterai. Karena pengeluaran perusahaan lebih sedikit ketimbang pemasukan, akhirnya tambang berhenti di 1976. Setelah itu ada eksplorasi dari PPTM hingga 1983 namun hanya untuk penelitian," imbuh Muryanto.
Mulut keempat gua terowongan itu kini tertutup dan tak bisa diakses.
Mulut gua horizontal terkalang material tanah tebal yang longsor sejak beberapa tahun terakhir sedangkan gua vertikal yang menurut informasi masyarakat berkedalaman sekitar 80 meter itu terlihat penuh oleh genangan air jernih kehijauan.
Padahal, di dalam terowongan itu masih terdapat jejak-jejak kegiatan tambang mangaan, seperti misalnya potongan jalur rel lori pengangkut hasil tambang menuju permukaan luar gua.
Adapun jarak antara mulut Gua Sunoto dan PPTM sekitar satu kilometer. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tambang_20180208_183913.jpg)