Menulusuri Jejak Penambangan Mangaan di Kliripan
Di dalam terowongan masih terdapat jejak penambangan mangaan, seperti potongan jalur rel lori pengangkut hasil tambang menuju permukaan luar gua.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Pedukuhan Kliripan, Desa Hargorejo, Kecamatan Kokap menyimpan potensi tersembunyi.
Wilayah tersebut konon dulunya merupakan kawasan besar penambangan mineral mangaan pada masa kolonial Belanda hingga era 70-an.
Wilayah Pedukuhan Kliripan saat ini tampak seperti kawasan pemukiman pada umumnya.
Rumah-rumah terlihat berdiri di antara petak-petak luas pekarangan dalam kontur berbukit yang ditumbuhi aneka pepohonann.
Namun di bawahnya, tersimpan sebuah kekayaan historis maupun sumber daya mineral yakni bekas penambangan mangaan.
Hal ini didasarkan pada keterangan masyarakat sekitar dan berbagai literatur yang menyebutkan aktivitas penambang di daerah tersebut.
Menurut cerita, penambangan mangaan di Kliripan berjalan pasang surut pada masa penjajahan Belanda dan Jepang dan kemudian berlanjut masa kemerdekaaan sebelum meredup dan hilang pada kurun masa 1972-1976 sebagai periode akhir aktivitas penambangan komersial di kawasan tersebut.
Di daerah itu terdapat pula empat buah goa bekas terowongan tambang yang saling terhubung satu sama lain.
Yakni, tiga buah terowongan horizontal bernama terowongan Sunoto, Holiday, dan ITB serta satu terowongan vertikal berbentuk luweng yang dinamakan terowongan PPTM (Pusat Penelitian Tambang dan Mineral). Penamaan ini mengikuti pihak yang pernah melakukan eksplorasi atau penelitian di tiap goa tersebut.
Selain itu, sejumlah dokumen lawas serta alat-alat pertambangan lawas juga tersimpan di rumah seorang warga setempat, Warto yang juga bekas penambang.
Antara lain berupa peta lorong tambang, gambar teknis mesin pengolahan mangaan, cangkul, palu, ganco, hingga foto-foto aktivitas penambangan zaman kolonial. Di samping itu juga terdapat bekas pondasi laboratorium dan lapangan tenis.
"Saat itu memang banyak lorong terowongan penambangan yang dibuat mengikuti urat lapisan mangaan. Banyak warga sini yang bekerja jadi tenaga tambang, termasuk saya yang waktu itu masih berumur sekitar 20 tahun. Setelah tambang tutup, warga lalu beralih jadi petani," kata seorang mantan penambang mangaan , Muryanto (60) yang bekerja di pertambangan itu pada periode akhir.
Saat itu, kegiatan penambangan mangaan dipegang oleh perusahaan gabungan pengusaha nasional dan negeri China, PT Pertambangan Wonokembang Kliripan (PWK).
Mulanya, penambangan dilakukan manual dengan panco dan cangkul kemudian berkembang dengan menggunakan dinamit untuk memecah urat mangaan.
Tenaga tambangnya mencapai ratusan orang dalam tiga shift kerja setiap harinya.
Menurutnya, saat itu produksi mangaan di Kliripan memang cukup tinggi, terbukti dari dua kali ekspor ke Jepang pada 1974 dan 1976 dengan kapasitas tiap pengiriman mencapai 40 ribu ton.
Hasil tambangnya dikirim lewat Cilacap melalui Stasiun Pakualaman di Kedundang.
Hanya saja, kadar mangaan yang ditambang hanya sekitar 45 persen, terbilang lebih sedikit ketimbang hasil penambangan di Ngruno, Pengasih yang saat itu jadi bahan baku pembuatan baterai di Tangerang.
"Mangaan di sini terlalu banyak kecampur besi jadi kurang layak untuk bikin baterai. Karena pengeluaran perusahaan lebih sedikit ketimbang pemasukan, akhirnya tambang berhenti di 1976. Setelah itu ada eksplorasi dari PPTM hingga 1983 namun hanya untuk penelitian," imbuh Muryanto.
Mulut keempat gua terowongan itu kini tertutup dan tak bisa diakses.
Mulut gua horizontal terkalang material tanah tebal yang longsor sejak beberapa tahun terakhir sedangkan gua vertikal yang menurut informasi masyarakat berkedalaman sekitar 80 meter itu terlihat penuh oleh genangan air jernih kehijauan.
Padahal, di dalam terowongan itu masih terdapat jejak-jejak kegiatan tambang mangaan, seperti misalnya potongan jalur rel lori pengangkut hasil tambang menuju permukaan luar gua.
Adapun jarak antara mulut Gua Sunoto dan PPTM sekitar satu kilometer. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/tambang_20180208_183913.jpg)