Calon Perawat Diduga Dilecehkan Oknum Dokter di RS Surabaya, Ini Kronologinya

Oknum dokter tersebut berdalih tidak mendengar detak jantung dan minta kancing baju dibuka.

Editor: Gaya Lufityanti

Pengakuan korban calon perawat di Rumah Sakit di Surabaya, sebut saja Niken saat menjalani tes kesehatan cukup mengagetkan.

Perempuan 19 tahun itu sampai menitikkan air mata saat mengisahkan cerita bagian vitalnya dipegang dan diraba oleh oknum dokter itu

Korban dugaan pelecehan seksual oleh dokter R itu datang ke Kantor Pengacara Okky Suryatama SH di Jalan Darmokali sekitar pukul 12.00 WIB.

Wanita berkulit kuning langsat itu mengenakan baju warna hitam dipadu celana jeans warna serupa dan topi cokelat.

Pengakuan korban ini dikemas dengan gaya bertutur.

Mengawali ceritanya, ia saat itu menjalani serangkaian tes kesehatan di laboratorium dan tes darah serta tes urine.

Kemudian korban menjalani tes lagi ke ruang radiologi.

"Saya difoto torax dan memang lepas pakaian dan itu foto biasa. Setelah selesai dilakukan tensi darah, tinggi dan berat badan. Begitu tes selesai saya diantar ke ruang dokter untuk pemeriksaan lanjutan," katanya.

Korban diantar seorang suster ke ruang dokter dan di dalam ada tiga dokter.

Habis itu perawat keluar disusul dua dokter lainnya keluar.

Waktu itu seorang dokter sempat disapa karena sebelumnya yang mengetes korban saat wawancara.

Di ruang itu juga ada calon perawat laki-laki juga menunggu tes kesehatan oleh dokter R dan jadwalnya pukul 09.00 WIB.

Korban jadwalnya sesuai SMS pukul 08.30 WIB, tapi calon perawat laki-laki itu didahulukan.

Tes calon perawat laki-laki tidak sampai 10 menit lalu keluar.

Setelah calon perawat laki-laki keluar, giliran korban menjalani tes.

Korban dipersilakan masuk, "mari silakan".

"Sebentar ya, saya disuruh tensi, padahal sebelumnya sudah pernah ditensi.

Tapi dokternya tidak membawa alat tensi hanya membawa stetoskop," katanya.

Korban saat itu berargumen sudah ditensi sebelumnya kenapa harus tensi ulang.

Setelah itu dia diminta telentang, kemudian kelambu ditutup.

Lalu dilakukan pemeriksaan dengan stetoskop.

Dokter berdalih tidak mendengar detak jantung dan minta kancing baju dibuka.

"Saya dibuat mainan sampai 5 menit lebih," ujarnya.

Korban sempat dibuat tak berdaya karena diajak ngomong dan dialihkan pembicaraannya.

Sang dokter juga menyuruhnya membuka baju bagian bawah.

"Dia tanya pernah keputihan? Saya jawab pernah.

"Wah kalau begitu saya harus lihat", kata dokter. lalu saya tanya 'Serius dok' sampai tiga kali," ceritanya.

Dokter ini berdalih kalau tidak diperiksa jika ada apa-apa dia yang disalahkan.

Soalnya dia yang memeriksa.

Pascakejadian itu, Niken langsung pulang dan menangis sejadi-jadinya.

Ia sangat malu dan mengaku trauma.

Ia memendam kejadian yang baru dialami saat menjalani tes kesehatan terakhir.

Ia juga tidak cerita ke orang tuanya.

Esoknya, korban datang ke Profesi Keperawatan untuk menceritakan kronologis kejadian itu.

Setelah mendatangi ke Profesi Keperawatan, korban dihubungi pihak rumah sakit.

"Mbak mau gaji berapa mbaknya sudah diterima tinggal nego gaji".

Akhirnya korban datang didampingi Profesi Keperawatan.

Tapi korban sudah enggan untuk masuk menjadi perawat disana. 

Perkara dugaan pelecehan seksual itu dilaporkan ke Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (SPKT) Polda Jatim, Agustus 2017 lalu. (*) 

Sumber: Surya
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved