Kisah Buku 'Hantu, Presiden dan Puisi Kesedihan' Milik Irwan Bajang.
Pada workshop kali ini, UMBY menghadirkan penulis buku "Hantu, Presiden dan Puisi Kesedihan" Irwan Bajang.
Penulis: Noristera Pawestri | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Noristera Pawestri
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Fakultas Ilmu Komunikasi dan Media Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) gelar workshop dan bedah buku "Menulis adalah Seni", Kamis (4/1/2017).
Pada workshop kali ini, UMBY menghadirkan penulis buku "Hantu, Presiden dan Puisi Kesedihan" Irwan Bajang.
Irwan Bajang ini sekaligus CEO Indie Book Corner.
Irwan menuturkan buku berjudul "Hantu, Presiden dan Puisi Kesedihan" ini merupakan buku kelimanya.
Di buku kelimanya Ini, dirinya mencoba menulis sama seperti kebanyakan tulisan miliknya.
"Saya memiliki obsesi menulis cerita politik yang dikemas dalam bingkai bahasa keseharian," tutur Irwan ketika ditemui di Auditorium Kampus 3 Universitas Mercu Buana Yogyakarta.
Buku ini mengantarkan orang pada studi mengenai politik, gerakan sosial dan kritik terhadap sebuah rezim.
"Cuman ini kan kumpulan cerpen ya beberapa cerpen yang memang temanya politik," lanjutnya.
"Hantu, Presiden dan Puisi Kesedihan" ini sebuah cerpen yang berkisah tentang perpindahan rezim dari rezim otoriter menuju rezim baru.
Ia menambahkan, penulisan buku ini berawal dari gagasannya melihat fenomena yang sama di indonesia atau di beberapa negara berkembang.
"Cuma nggak semua tentang politik sih ada yang cinta, asmara ada juga," kata Irwan. (*)