Menyambangi Rumah Perhentian Terakhir Teroris Dr Azhari di Kota Batu
Menyambangi bekas rumah kontrakan kelompok penebar maut di Indonesia, menimbulkan sensasi yang tak mudah dilukiskan
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
Kuatnya tekanan akibat ledakan bom Arman membuat tembok ruang tamu itu melengkung, namun tidak sampai jebol. Bagian atas dan bawah serta kiri kanan tembok masih terikat kuat di kolom-kolom bangunan.
Kisah rinci tewasnya doktor yang pernah dijuluki "The Demolition Man" itu diungkapkan dalam buku yang disusun Irjen Pol Arif Wachjunadi, "Misi Walet Hitam: Menguak Misteri Tewasnya Dr Azhari".
Kisah perburuan Azhari memang terbilang operasi paling rumit, lama, melelahkan, dan cukup menguras energi para petugas antiteror Polri. Sejak terendus kemunculannya di proyek bom Bali I pada 2002, baru tiga tahun kemudian buron itu bisa ditumpas.
Selama tiga tahun itu, serangkaian bom teror ditebar Azhari dan komplotannya, merenggut berpuluh nyawa warga lokal maupun asing. Ada bom JW Marriot Jakarta, bom Kedubes Australia, dan bom Bali II.
Seperti ditulis Arif Wachjunadi di bukunya, kesulitan terbesar yabg dihadapi pasukan Polri, profil Azhari masih minim, ia bergerak terus, hidup berpindah-pindah, dan dilindungi sel-sel teroris yang sangat loyal.
Komunikasi lebih banyak menggunakan kurir berlapis. Komunikasi elektronik dan internet dilakukan para pelindungnya. Hanya sesekali Azhari menggunakan peranti elektroniknya untuk bercakap dengan pihak lain.
Karena itu di setiap lokasi singgah atau persembunyian, dipastikan Azhari didampingi kurir dan pengawal lokal yang sangat mengenal medan setempat. Azhari yang diketahui menyukai daerah berhawa sejuk/adem, lebih banyak mengurung diri di dalam rumah.
Jika sesekali meninggalkan rumah, biasanya akan dijemput dan diantar kurir kepercayaan. Keluar maupun masuk rumah biasa helm masih tetap dipakai menutup wajahnya.
Cerita begitu halusnya upaya melindungi Azhari pernah diungkapkan saksi mata, Bu Dewi. Perempuan ini merupakan pihak terakhir yang tinggal di rumah itu sebelum dikontrak kelompok Azhari.
Ia hanya mengenal dua orang calon penghuni kontrakan, yaitu Cholily dan Budi alias Arman. Cholily yang banyak bergaul dan bertemu dengan warga serta pihak lingkungan.
Mahasiswa sebuah PTN di Malang itulah yang pernah meminta Dewi agar meninggalkan sejumlah perabot rumah seperti meja dan lemari. Selebihnya orang-orang di rumah kontrakan itu menutup diri.
Dewi ini pernah jadi saksi persidangan kasus bom Bali jilid II. Ia diminta mendeskripsikan para penghuni kontrakan dan aktivitas mereka yang diketahui Dewi.
Selain Dewi, saksi kunci lain adalah Bu Salamun, yang rumahnya persis berhadapan dengan kontrakan. Sayang saat disambangi Tribun, Bu Salamun sedang pergi ke luar kota. Pintu rumahnya digembok.
Bu Salamun ini cukup tahu siapa dan bagaimana kehidupan para penghuni kontrakan. Kevin, cucu Bu Salamun, pernah diajak main Cholily ke dalam rumah tersebut. Bahkan hingga pagi sebelum beberapa jam kemudian rumah itu digerebek.
Sumarmo, seorang warga Perum Flamboyan mengatakan, sejak 12 tahun lalu memang rumah tersebut tak pernah diperbaiki. Ia tidak tahu sebab dan alasannya karena pemilik sudah tak pernah lagi menengok rumahnya tersebut.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/rumah-dr-azhari_20171228_205949.jpg)