Menyambangi Rumah Perhentian Terakhir Teroris Dr Azhari di Kota Batu

Menyambangi bekas rumah kontrakan kelompok penebar maut di Indonesia, menimbulkan sensasi yang tak mudah dilukiskan

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Muhammad Fatoni
Tribun Jogja/ Setya Krisna Sumargo
Bekas rumah kontrakan gembong teroris Dr Azhari di Kota Batu, Jawa Timur 

TRIBUNJOGJA.COM - Petualangan mantan dosen PTN di Kuala Lumpur, Malaysia itu akhirnya terhenti 9 November 2005.

Sebuah rumah kontrakan di Perumahan Flamboyan di Kota Batu jadi persinggahan terakhirnya. Gembong teroris ahli bom itu tewas dibedil pasukan khusus antiteror Polri.

12 tahun berlalu, menyambangi bekas rumah kontrakan kelompok penebar maut di Indonesia, menimbulkan sensasi rasa yang tak mudah dilukiskan.

Takjub bisa menjejaki situs bersejarah ini, sekaligus emosional mengingat korban-korban bom maut yang ditebarkan ke berbagai tempat sejak 2002 oleh gerombolan Dr Azhari.

Apalagi rumah itu tak berubah banyak, masih tetap puing-puing. Jejak tembakan serta dampak ledakan bom ada di sana-sini. Masih terekam sangat jelas drama perlawanan penghabisan Dr Azhari bin Husin.

Kesunyian terasa di sekitar rumah milik Supomo, warga Surabaya di Jalan Flamboyan A1-7, RT 1/RW 09, Kelurahan Songgokerto, Kota Batu, saat disambangi akhir pekan lalu. Rata-rata rumah di kiri kanan dan depan tergembok.

Satu dua pengendara motor melintas di gang depan rumah bersejarah itu. Namun lokasi ini mudah ditemukan. Nyaris semua penduduk Kota Batu mengetahui lokasi tempat ini.

Dari arah Alun-alun Kota Batu naik ke arah jalan menuju Pujon, Cangar, Mojosari. Kira-kira 3 kilometer, sebelum belokan jalan arah Pujon, ke kiri nanjak masuk ke komplek Perumahan Flamboyan.

Persis di depan Hotel Seulawah, belok kanan, mentok pas di rumah A-1/7. Rumah yang pernah ditempati Dr Azhari dan teman-temannya itu ada di posisi tusuk sate jalan.

Rumput liar memenuhi halaman depan dan belakang rumah yang masih porakporanda. Genting dan pecahan kaca masih dibiarkan apa adanya. Secara penampakan, kondisi rumah jauh lebih parah kerusakannya ketimbang sesaat setelah penggerebekan.

Dulu, kanopi teras depan persis di pintu masuk, masih bertengger di tempatnya, meski sebagian atap bertumbangan akibat ledakan bom. Kini, atap kanopi dan bangunan sepenuhnya lenyap.

Pagar rumah tidak digembok. Siapapun leluasa masuk meninjau situasi di dalam rumah. Melihat kondisi kamar yang pernah ditempati Dr Azhari dan siang malam dipakai untuk merakit bom.

Selain bekas tembakan senapan serbu dari anggota Crisis Response Team (CRT) Brimob Polri yang melubangi tembok bagian depan hingga tembok dalam rumah, pemandangan menyolok ada di ruang tamu.

Tembok sisi selatan ruang tamu melengkung, lapisan pasir semen penutupnya mengelupas, tapi tidak jebol atau runtuh. Lengkungan tembok itu tercipta akibat efek ledakan bom sesudah Dr Azhari tewas dibedil.

Arman, pemuda yang dipercaya geng teroris itu untuk menjaga dan mengawal Azhari, meledakkan bom di tubuhnya begitu menyaksikan ahli pembuat bom itu terjungkal bermandi darah di ruang tamu.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved