Danau Baru yang Menakjubkan di Lembah Serpeng Gunungkidul
Luas area yang longsor dan membentuk kawah besar itu kini sekitar 1,5 hektare.
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ari Nugroho
"Rupanya saat itulah tebing lembah runtuh, dasar luweng mungkin ambrol. Dengungan itu dari pusaran air yang tersedot cepat masuk luweng. Pagi-pagi saya ke sini, air sudah surut sangat banyak," ungkap Suratin.
Harjosastro (70), warga Dusun Dengok yang berjarak sekitar 3 kilometer juga mengaku mendengar suara menggelegar beruntun datang dari arah lembah Serpeng.
Paginya, ia baru mendapat kabar air di Luweng Blimbing nyaris lenyap ambles bumi.
Belum ada penelitian khusus ke mana aliran air yang ambles itu mengarah.
Namun menilik lokasinya yang berdekatan dengan Luweng Seropan yang di dasarnya mengalir sungai besar, kemungkinan air masuk ke saluran ini.
Kemungkinan besar saluran di dasar Luweng Seropan II ini kelanjutan dari sistem akuifer sungai bawah tanah Bribin-Baron yang berhulu di Ponjong.
Air yang ambles di Luweng Tumbul di sebelah Blimbing juga kemungkinan masuk ke saluran ini.
Lokasi Luweng Blimbing kini terus didatangi warga sekitar yang penasaran.
Pengunjung dari luar daerah juga terus berdatangan ingin melihat dari dekat lembah besar di kawasan Perhutani yang kian terbuka seperti kawah raksasa.
Fenomena ini disebut Dr Tjahyo Nugroho Adjie dari Fakultas Geografi UGM sebagai suffosion doline atau suffosion sinkhole.
"Intinya, tanah permukan tertelan sungai bawah tanah," kata Adjie.
"Ini juga sering disebut subsidence doline karena perubahan sifat hidrologis akibat banjir pada sungai bawah tanah di bawahnya," lanjut pakar karst Gunungkidul ini.
Tentang warna air yang kemudian dari cokelat menjadi kehijauan, disebabkan penguapan atau evaporasi.
"Air murninya menguap, tertinggal unsur mayor yang dominan terlarut dalam air, yaitu kalsium dan bikarbonat," paopar Adjie.
Kepala Desa Pacarejo, Suhadi, sudah melaporkan fenomena alam ini kepada pihak- pihak terkait.