Lapsus
Putra Gunungkidul Ini Jadi Ilmuwan Hebat Bidang Arkeologi
Thomas Sutikna terus terlibat berbagai penelitian arkeologi, yang kemudian membawanya lebih banyak ke wilayah timur Indonesia
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ari Nugroho
Laporan temuan itu dimuat di jurnal Nature pada 27 Oktober 2004, atau setahun setelah penemuan, dan langsung mengguncang jagat ilmu pengetahuan tentang sejarah kehidupan manusia.
Namun begitu, temuan awal Hobbit dari Flores itu pada 2003 bukan tanpa tantangan.
Prof Dr Teuku Jacob, paleoantropolog UGM yang dianggap mahaguru, menolak tesis Homo Floresiensis sebagai ras baru selain Homo Erectus.
Penentangan ini cukup mengguncang kalangan ilmuwan Indonesia.
Baca: Arkeolog Masih Incar Tulang Belulang Manusia Modern Awal di Gua Braholo
Prof T Jacob menilai rangka itu bukan manusia kerdil spesies baru, tapi hominid modern yang kelanjutannya dikenal sebagai orang-orang katai yang masih eksis di Flores.
Mereka kerdil karena mengalami gangguan pertumbuhan atau mikrosefalis.
Perdebatan ini sempat membuat Liang Bua tertutup untuk penelitian.
Sepeninggal Prof T Jacob (2007), penelitian dilanjutkan.
Pada 2007, para arkeolog menemukan petunjuk baru berupa pergelangan tangan.
Analisis kemudian menyimpulkan, ciri temuan itu bukan dari Homo Sapiens.
Tahun 2009, publikasi di jurnal Athropological Science mengukuhkan Homo Florensiensi memang eksis sebagai manusia dari masa purba.
Nama Thomas Sutikna pun berkibar bersama Prof Mike Morwood dan tim dari Puslit Arkenas.
"Dari perjalanan ini saya ingin menyampaikan, jika sudah memilih bidang tertentu, fokus dan tekunilah," pesan ayah Stefani Anindita Waraningtyas yang dikukuhkan sebagai alumni terbaik UNS pada 2014 ini.
Baca: Siswa-siswi SMK Bhinakarya Rongkop Takjub saat Kunjungi Gua Braholo
Thomas yang semasa kuliah aktif di Mapala Sentraya Bhuana dan Bakorlak Emergency UNS ini menganggap temuan Hobbit Flores merupakan pencapaian tertingginya selama ini.
Para ilmuwan Indonesia bisa duduk sejajar dengan para ahli dan ilmuwan hebat di panggung dunia.
Temuan Homo Floresiensis berdampak luas bagi penulisan sejarah awal kehidupan manusia.
Selama ini dikenal hanya ada dua genus hominin di Indonesia, yaitu Homo Erectus dan Homo Sapiens, temuan di Flores ini mengubah pemahaman sejarah, ternyata ada spesies lain," kata Thomas.
Penelitian prestisius di Liang Bua yang menghaslkan Hobbit Flores itu juga lah yang mengantarkan Thomas Sutikna meraih gelar doktor (PhD) di Universitas Wollongong.
"Sampai saat ini saya masih Fellow Research di Wollongong, dan mungkin sampai beberapa tahun mendatang. Penelitian yang sekarang ini di Gua Braholo, cukup menantang, dan saya berkesempatan pulang kampung," lanjutnya.
Sebagai putra daerah Gunungkidul, Thomas merasa selama ini justru jauh dari tanah yang sesungguhnya menyimpan sejarah peradaban hebat pada masa lalu.
"Saya selama ini lebih banyak meneliti di daerah lain. Kini saatnya saya mencoba berkontribusi di Braholo," kata pria sederhana yang sejak kecil ditempa kerasnya hidup di tanah kelahirannya.
Bagi Thomas, situs Gua Braholo dan gua-gua hunian di Pacitan hingga Tulungagung menyimpan rahasia dan misteri besar kehidupan awal manusia modern (Homo Sapiens) setibanya mereka di Jawa.
"Penelitian belum mencapai lapisan terbawah (steril), dan dilihat dari penelitian terdahulu, ini tergolong sangat tua hingga usia 34.000 tahun. Nah, di bawah lapisan itu ada apa, inilah misteri besar yang harus disingkap," tandasnya.(TRIBUNJOGJA.COM / Setya Krisna Sumarga)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/thomas-sutikna-phd_20171113_200213.jpg)