Lapsus
Putra Gunungkidul Ini Jadi Ilmuwan Hebat Bidang Arkeologi
Thomas Sutikna terus terlibat berbagai penelitian arkeologi, yang kemudian membawanya lebih banyak ke wilayah timur Indonesia
Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ari Nugroho
Dari gurunya yang saat itu jadi peneliti senior di Pusat Penelitian Arkeologi nasional (Puslit Arkenas), Thomas Sutikna melanjutkan pendidikan pascasarjana di Universitas Indonesia pada 1997.
Ia lulus S2 UI dengan tesis tentang kehidupan di awal-awal zaman neolitik di gua.
"Penelitian lapangan saya di Song Gupuh, Pacitan," jelas penyuka nasi thiwul dan sayur kacang tholo ini.
Lokasi ini telah diteliti sejak 1993 oleh Prof RP Sudjono dan tim.
Thomas dilibatkan melanjutkan penelitian sejak 1994, sekaligus kemudian jadi obyek tesisnya di UI.
Setelah menyandang gelar master pada tahun 2000, Thomas Sutikna terus terlibat berbagai penelitian arkeologi, yang kemudian membawanya lebih banyak ke wilayah timur Indonesia.
Ia kemudian ditugaskan Puslit Arkenas untuk bergabung dengan Prof Michael John "Mike" Morwood.
Profesor arkeologi dari New England University itu hendak mendalami situs purbakala di Liang Bua, Manggarai, Flores, NTT.
Baca: Hasil Penelitian Gua Braholo akan Dianalisa Lebih Lanjut di Laboratorium
Thomas Sutikna terjun ke lapangan bersama Drs Jatmiko MHum, E Wahyu Saptomo, dan Rokus Awe Due, ketiganya peneliti di Puslit Arkenas.
Sejak 2003, penelitian serius digelar menyusul temuan jejak kehidupan purba di sekitar gua itu.
Pada ekspedisi inilah di kedalaman 5 meter, tim menemukan kerangka sub fosil yang dilihat dari ukurannya luar biasa kerdil.
Ada 9 individu ditemukan namun tidak lengkap.
Pertanggalan relatif dari lapisan penemuan, menunjukkan usia rangka itu antara 94.000 hingga 13.000 tahun.
Butuh waktu bertahun-tahun, melibatkan banyak pakar dari berbagai disiplin ilmu, sebelum temuan itu diumumkan sebagai Homo Floresiensis.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/thomas-sutikna-phd_20171113_200213.jpg)