Australomelanesid, Hominid Raja Gua

Mereka bertahan selama berpuluh-puluh tahun, sempat menguasai Pulau Jawa (Gunung Sewu) sebelum perlahan menghilang digantikan ras Mongoloid

Penulis: Setya Krisna Sumargo | Editor: Ikrob Didik Irawan
Tribun Jogja/Setya Krisna S
Aktivitas penelitian di Gua Braholo untuk mengungkap keberadaan penghuni awal gua prasejarah di Desa Semugih, Rongkop, Gunungkidul. 

Dari ciri-ciri ini kemudian dianalisis untuk menentukan jenis rasnya.

Dari morfologi kranio-fasial kedua individu, ciri-ciri ras Australomelanesid sangat dominan. Ini didukung postur tubuh dan ukuran tulang mereka.

Ciri-ciri serupa tampak pada sejumlah individu manusia prasejarah yang ditemukan di Song Keplek, Pacitan.

Ras ini secara umum mempraktikkan penguburan terlipat, beda dengan ras Mongoloid yang menggunakan cara penguburan telentang.

Kelompok manusia modern Australomelanesid ini tersebar luas, dengan ciri-ciri paling mudah saat ini dikenali pada fisik warga Papua, sebagian Flores, dan Melanesia di sebelah timur Papua.

Mereka bertahan selama berpuluh-puluh tahun, sempat menguasai Pulau Jawa (Gunung Sewu) sebelum perlahan menghilang digantikan ras Mongoloid yang begitu dominan hingga saat ini.

Benua Afrika

Lantas siapa manusia Asutralomelanesid yang pernah mendirikan "kerajaan" di Gunung Sewu, termasuk di Gua Braholo ini?

Bukti paleoantropoligis sejauh ini benua Afrika dipercaya sebagai sumber asal dan tempat evolusi hominid.

Menurut Dr Thomas Sutikna (Universitas Wollongong), manusia modern (homo sapiens) yang kini mendominasi bumi, keluar dari Afrika sejak 100.000 tahun lalu.

Mereka berjalan kaki menyusuri garis pantai ketika Afrika, Timur Tengah, Asia, Sumatera hingga Jawa dan Kalimantan masih satu daratan.

Daratan Asia di zaman es yang menyatu ini dikenal dengan sebutan paparan Sunda.

Jejak populasi Australomelanesid di paparan Sunda ini kelak dikenal sebagai pendukung budaya Hoabinhian (satu daerah di Vietnam).

Para ahli meyakini kelompok Austromelanesid ini sejak bermigrasi dari Afrika hingga Kalimantan secara bergelombang, dan belum pernah menyeberangi lautan.

Karena itu persebaran mereka terhenti di wilayah yang kelak dikenal dengan istilah garis Wallacea.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved