Pentingnya Ekskavasi Gua Braholo

Gua Braholo sendiri menghadap barat daya peli kobong dengan ketinggian 357 meter di atas permukaan laut.

Penulis: trs | Editor: Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM / Rendika Ferri
Peneliti tengah melakukan pemetaan di bidang ekskavasi di situs Gua Braholo, Desa Semugih, Kecamatan Rongkop, Gunungkidul, Senin (30/10/2017). 

TRIBUNJOGJA.COM - Ekskavasi Gua Braholo diketahui pertama kali dilakukan pada tahun 1995 oleh Prof Truman Simanjuntak dari pusat penelitian arkeologi Nasional Jakarta.

Pada penelitian digali 14 kotak ekskavasi dengan temuan berbagai tembikar sisa biji-bijian, yang sebagian di antaranya terbakar.

"Kerangka manusia diperkirakan 9000 tahun lalu, saat ini disimpan di museum di Punung (Pacitan). Di sini istilah yang digunakan bukan manusia purba ya, tetapi merupakan manusia modern pertama," Peneliti dari Pusat Arkeologi Nasional (Arkenas) Thomas Sutikna, Kamis (9/11/2017).

Ekskavasi di gua Braholo ini penting karena saat ini kehadiran manusia modern di Indonesia (homo sapiens) yang tua baru ditemukan di Wajak, Tulungagung, Jawa Timur yang berumur skitar 40.000 tahun.

Di luar Indonesia, manusia modern awal antara lain ditemukan di Gua Niah (Serawak, Malaysia) yang berumur skitar 45.000 tahun.

Di Gua Lene Hara dan Jerimalai (Timor Leste) ditemukan berumur skitar 42.000 sampai 45.000 tahun.

Sedangkan di Australia Utara di peroleh umur sekitar 55.000 - 60.000 tahun.

Dengan demikian masih ada kesenjangan umur tentang kapan manusia modern awal hadir di kepulauan Nusantara ini.

"Di Australia lebih tua, masalahnya mereka harus melewati Indonesia tetapi di mana, karena tidak mungkin dari Afrika langsung ke Australia. Itu pentingnya Indonesia memiliki peranan penting tentang cikal bakal manusia," tuturnya.

Gua Braholo sendiri menghadap barat daya peti kobong dengan ketinggian 357 meter di atas permukaan laut.

Lantai gua mempunyai ketinggian 352 meter di atas permukaan laut.

Sebagian relatif datar dan miring.

Kondisi lantai gua kering dengan langit-langit yang cukup tinggi mencapai 15 meter.

Lebar ruangan kurang lebih 39 meter dengan panjang 30 meter.

Secara keseluruhan luasannya mencapai 1.172 meter.

Thomas mengatakan, selama ini penemuan gua braholo ditempatkan di museum Punung, Pacitan, Jawa Timur.

Untuk itu pihaknya berharap bisa dibangun museum.

"Jika dapat dibangun dan dilengkapi fasilitas di Gua Braholo, dengan begitu keberadaan situs menjadi situs cagar budaya dapat memiliki nilai pendidikan dan membawa kesejahteraan untuk masyarakat," katanya. (*)

Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved