Ini Cara Kaum Muda Jatimulyo Muliakan Tamu Melalui Tradisi Sinoman

Dalam bentuk sederhana, prosesi sinoman dalam sebuah resepsi masyarakat biasanya dilakukan oleh kaum muda-mudi setempat dengan pakaian formal

Tayang:
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: Ari Nugroho
TRIBUNJOGJA.COM / Singgih wahyu
Tradisi sinoman terus dijaga oleh warga Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo. 

Prosesi sinoman itu dimulai dengan adegan laku ndhodhok (jalan berjongkok) oleh sekitar lima orang petugas sinoman secara berurutan.

Masing-masing membawa nampan berisi sajian makanan aneka rupa dengan kedua tangannya dan dijunjung tinggi sejajar dahi.

Mereka berjalan jongkok hingga sampai tepat di depan para tamu yang duduk berjajar saling berhadapan.

Hal serupa mereka lakukan serampungnya melayani tamu.

Dalam acara itu, ada tiga kelompok sinoman yang turun melayani tamu.

Ada dua personal utama yang berperan penting dalam prosesi sinoman itu yakni pancer dan plotengan.

Pancer bertindak sebagai pemimpin rombongan sekaligus penyaji utama.

Ia berada di ujung depan rombongan dan harus tahu betul urutan penyajian jenis makanannya.

Secara estafet ia akan menerima nampan sajian dari tiga anggota sinoman di belakangnya.

Sedangkan plotengan yang biasanya berada di urutan paling belakang rombongan sinoman itu bertugas memastikan kecukupan sajian bagi tamu.

Jika jumlah sajian kurang, plotengan akan kembali ke dapur untuk mengambil makanan lainnya.

"Pelaku sinoman ini semuanya anak muda di Jatimulyo. Mereka secara rutin berlatih sinoman Jawa dengan bimbingan para sesepuh. Ini juga menjadi cara kami untuk menjaga dan melestarikan budaya dan tradisi secara estafet kepada generasi muda," kata Anom.

Seorang anggota kelompok sinoman langen Andrawina Jatimulyo, Sukija (35) mengatakan bahwa pihaknya telah berlatih dalam lima bulan terakhir.

Sudah beberapa kali pula prosesi sinoman Jawa itu ditampilkan dalam beberapa resepsi dan kenduri warga meski baru sekali itu dilakukan untuk tingkat desa.

Jalan berjongkok diakuinya bagian paling menguras tenaga dalam prosesi tersebut karena menempuh jarak beberapa meter dengan posisi menjunjung nampan makanan.

"Dengkul (lutut) rasanya mau copot. Keringat mengucur itu sudah biasa. Kita juga harus tahu kelas-kelas makanannya apa saja, cara memberikan gelas minum, dan sopan santun penyajian lainnya. Tapi ini bagian dari warisan budaya leluhur yang perlu dilestarikan dan saya senang menjalaninya," kata Sukija yang berperan sebagai pancer itu.(TRIBUNJOGJA.COM)

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved