LIPSUS TRIBUN JOGJA
Membeli Tanah Kolektif
Ada budaya untuk membuat cungkup di makam. Hal ini tentu saja akan semakin membuat tanah makam semakin sempit.
Penulis: Agung Ismiyanto | Editor: Ikrob Didik Irawan
BERBICARA mengenai lahan pemakaman yang semakin sempit di Kota Yogyakarta memang tak lepas dari pemekaran kota dan juga aspek kultural.
Di Kota Yogyakarta dari data yang ada makam paling banyak berada di Kecamatan Umbulharjo dan Kotagede, di mana banyak orang ingin dimakamkan di kawasan tersebut, utamanya Kotagede.
Sementara, soal harga tanah makam yang tinggi pun disebabkan banyaknya warga luar Yogya yang menjadikan kota ini tempat tinggal.
Sehingga, banyak yang ramai-ramai membeli tanah di Yogya dan mengerek harga tanahnya. Termasuk, lahan makam semakin sempit dengan banyaknya penduduk.
Apalagi, ada budaya untuk membuat cungkup di makam. Hal ini tentu saja akan semakin membuat tanah makam semakin sempit.
Sementara solusi membeli tanah dan juga menaikkan pajak tanah makam pun, saya kira belum bisa efektif untuk menekan laju penyempitan lahan makam.
Beberapa orang, pada akhirnya akan membeli tanah kolektif untuk dijadikan makam misalnya keluarga.
Jika ditinjau dari beberapa aspek, persoalan penyelesaian lahan pemakaman ini akan sangat dilematis karena warga masih cenderung melihat aspek kultural.
Di antaranya adalah, warga masih menyakralkan pemakaman. Budaya di masyarakat yang masih ada acara nyekar, nyadran, dan sebagainya.
Di sisi lain, beberapa solusi yang bisa diambil adalah antara lain menumpuk jenazah keluarga secara bertingkat.
Atau, jika melihat pada zaman kolonial dulu, sudah ada larangan untuk pembuatan makam dengan cungkup.
Namun, makam dibuat dengan memperhatikan estetika seperti dibuat taman dan menghilangkan kesan angker. (*)
*Oleh: Mahatmanto
Dosen Arsitektur UKDW Yogya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/liputan-pemakaman-penuh-di-jojakarta_11_20171023_152109.jpg)