Mahasiswa UMY Dampingi Suku Kokoda di Papua Barat
Suku Kokoda yang saat ini bermukim di kampung Warmon Kokoda sebelumnya berasal dari Sorong Selatan dan beberapa daerah lainnya di sekitar Sorong.
Mengetahui keadaan menyedihkan yang dialami oleh masyarakat Kokoda, Pimpinan Pusat Muhammadiyah melalui Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) memberikan bantun kepada masyarakat suku Kokoda.
"MPM Muhammadiyah memberikan bantuan berupa pembebasan lahan tanah seluas 2 hektar untuk ditempati oleh Warga Kokoda. Selain itu Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan juga turut memberikan bantuan berupa pembangunan rumah permanen sejumlah 55 unit. Wilayah itulah yang kemudian menjadi kampung Warmon Kokoda saat ini," ujar Bahtiar Dwi Kurniawan, S Fil, MA, dosen pembimbing lapangan untuk MBN, Minggu (1/10/2017).
Meskipun saat ini mereka sudah memiliki rumah permanen di kampung Warmon Kokoda, masyarakat Kokoda masih memegang kebiasaan berburu dan meramu untuk memenuhi berbagai kebutuhan termasuk pangan.
Kebiasaan ini seringkali menjadi sumber konflik, karena masyarakat Kokoda melakukan kegiatan 'berburu' di tanah milik warga sekitar yang bertetangga dengan kampung Warmon Kokoda.
Bertani dan beternak masih menjadi hal yang asing bagi warga Kokoda.
"MPM pernah memberikan bantuan 4 ekor sapi kepada masyarakat Warmon Kokoda, namun karena pengetahuan warga yang minim mengenai tatacara beternak, bukannya berkembang biak alih-alih 2 sapi yang diberikan malah mati akibat hanya dikandangkan saja. Kita tidak menyangka kalau masyarakat Kokoda akan seasing ini dengan beternak," ujar Bahtiar.
Selain itu meskipun sudah resmi menjadi kampung dan tercatat sebagai bagian dari distrik Mayamuk, kemampuan masyarakat Warmon Kokoda untuk mengoptimalkan fasilitas yang dapat dimiliki dengan menjadi kampung resmi masih sangat terbatas.
Rumah yang belum terjangkau akses untuk air bersih, jalan umum yang masih seringkali terendam banjir dan berlumpur, bahkan banyak dari warga Warmon Kokoda yang belum memiliki dokumen sipil seperti KTP, KK, buku nikah dan akta kelahiran untuk anak-anak mereka.
Belum lagi dengan berbagai stigma negatif yang disematkan kepada suku Kokoda seperti biang onar, malas, dan susah diatur, baik dari warga Papua sendiri maupun oleh warga pendatang.
Keadaan-keadaan seperti itu seakan membuat usaha untuk membantu memajukan masyarakat Kokoda dalam bentuk apapun akan menjadi sulit.
Walaupun dengan keadaan yang seperti itu, kelompok KKN MBN tetap hadir di tengah-tengah warga Warmon Kokoda untuk memberikan dorongan pada masyarakat setempat agar mampu berubah menjadi lebih maju.
Ini merupakan kali kedua MBN menginjakkan kaki di kampung Warmon Kokoda sejak diadakan pertama kalinya tahun lalu.
Kedatangan mereka kali ini akan melanjutkan program-program pemberdayaan masyarakat.
"Warga Warmon Kokoda ini belum mampu memberdayakan diri dan sekitarnya secara maksimal. Padahal mereka merupakan pribadi pekerja keras yang memiliki semangat dan potensi untuk maju dan berkembang seperti warga sekitarnya. Kehadiran MBN di sini hanya untuk membantu dan mendorong mereka melalui proses yang dibutuhkan untuk mengubah diri mereka sendiri," ujar Muhammad Kahfi Hasibuan, mahasiswa Hubungan Internasional yang merupakan seorang anggota MBN.
Di antara sekian program unggulan yang dicanangkan MBN, satu di antaranya adalah pelaksanaan Latihan Dasar kepemimpinan yang ditujukan untuk generasi muda Warmon Kokoda.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kokoda_20171001_144032.jpg)