Kelembapan Udara yang Minim Bisa Picu Kebakaran, Ini Kondisi Udara di Yogyakarta
Kelembapan udara berpontensi menjadi penyebab kebakaran lahan saat berada di kondisi 40 persen. Artinya udara sangat kering.
Penulis: app | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Sigit Hadi Prakosa, Prakirawan Cuaca dari BMKG DIY menjelaskan kondisi udara di Yogya relatif masih normal. Sehingga kemungkinan menjadi penyebab kebakaran lahan sangat kecil.
Dijelaskan Sigit, kelembapan udara di DIY saat ini masih di angka 58 persen. Angka tersebut relatif masih aman, dan jauh dari kata bahaya.
Sebab, kelembapan udara berpontensi menjadi penyebab kebakaran lahan saat berada di kondisi 40 persen. Artinya udara sangat kering.
"Kondisi cuaca panas belum berada dalam taraf mengkhawatirkan," ujarnya kepada Tribun Jogja, Minggu (27/8/2017).
"Untuk memicu kebakaran itu ada kelembapan minim. Saat ini masih 58 persen. Kalau dibawah 40 persen sangat kering dan berpotensi (penyebab kebakaran)," jelasnya.
Sementara itu, suhu udara maksimum di Yogya masih dalam kondisi normal, yaitu 33 derajat celcius. Penyebab kebakaran lahan karena faktor cuaca juga tidak sesederhana karena suhu dan kelembapan, namun juga dipengaruhi kuat tidaknya hembusan angin.
Sementara, terkait kebakaran lahan jati di Bantul, Sigit memastikan hal tersebut bukan karena faktor suhu udara. Lebih lanjut, terangnya penyebab kebakaran bisa karena kesengajaan, faktor lalai, maupun faktor lainnya. Hal tersebut perlu dipastikan lebih lanjut.
"Kita punya satelit dari produk modis. Itu untuk memantau sebaran titik panas. Sampai 27 Agustus belum ada titik panas," paparnya.
Kejadian kebakaran lahan di Yogya yang disebabkan peningkatan suhu udara pernah terjadi beberapa tahun lalu. Namun, kala itu cuaca benar-benar ekstrem. Fenomena El Nino jadi penyebabnya.
"Beberapa tahun lalu di Merapi dan Lawu pernah ketika ada fenomena el nino. El Nino kan kemarau panjang, musim penghujan lama. Itu memang ekstrim dan udara sangat kering datangnya," ungkapnya.
"Sementara (tahun ini) kita prediksi Oktober sudah musim penghujan," pungkasnya. (app)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/hutan-selopamioro-imogiri-bantul2_20170826_233127.jpg)