Hati-hati Jika Dapat SMS Model Seperti Ini, Atau Informasi di Hape Anda Dicuri

Model kejahatan ini akan mengincar korban melalui pesan teks scam yang bisa menginfeksi ponsel pintar kita dan informasi pribadi kita pun berpindah.

Hati-hati Jika Dapat SMS Model Seperti Ini, Atau Informasi di Hape Anda Dicuri
Shutterstock
Ilustrasi 

TRIBUNJOGJA.COM – Hati-hati dengan kejahatan siber terbaru.

Penjahat siber mulai mengarahkan senjata mereka ke pesan pendek (SMS) yang semakin tersisih oleh aplikasi pesan seperti WhatsApp, LINE, atau Telegram.

“Smishing” begitu model kejahatan ini diberi nama, merujuk kepada model kejahatan sebelumnya “phishing”.

Model kejahatan ini akan mengincar korban melalui pesan teks scam yang bisa menginfeksi ponsel pintar kita dan informasi pribadi kita pun berpindah tangan.

Itu berarti nomor jaminan sosial, alamat, dan bahkan informasi kartu kredit kita bisa “dicuri” melalui pesan teks sederhana yang kita terima.

"Bisa jadi pesan itu seperti ini, ‘Rp500.000 baru saja ditarik dari rekening bank Anda, apakah Anda melakukannya? Jika tidak, teleponlah nomor telepon ini,’" kata Pierson Clair, direktur senior keamanan siber dan investigasi di Kroll, kepada NBC News.

"Ada jutaan pesan teks yang dikirim setiap hari dengan target semua orang dari anak kecil hingga kakek-nenek."

Peretas biasanya mengirim pesan “smishing” dengan tautan atau nomor telepon. Jika kita menelepon atau mengklik tautan itu, peretas pun bisa memanen lebih banyak data.

Amerika kehilangan AS$1,3 miliar (sekitar Rp1,7 triliun) untuk kejahatan siber pada tahun 2016, menurut FBI.

Jumlah itu diperkirakan meningkat karena penjahat model kejahatan baru yang tidak membuat curiga korban.

"Telepon saat ini menjadi barang yang tak lepas dari kehidupan kita. Makanya, ketika ada pemberitahuan semacam itu tadi, tak jarang kita lantas berkata, ‘Oh tidak’, dan kita akan secara aktif menanggapinya, lalu mereka pun bersuka ria "

Tidak ada cara untuk memblokir penipu yang mengirim pesan smishing karena mudahnya memperoleh nomer telepon. Jadi, para ahli merekomendasikan kita untuk bersikap skeptis jika tidak yakin dengan pesan yang masuk.

Jangan klik tautan atau menghubungi nomor yang ada di pesan tersebut. Sebagai langkah antisipasi, cek keabsahan pesan tadi melalui nomor telepon yang terverifikasi. Lalu hapus teks yang mencurigakan itu.

Intinya, Clair berkata, "Jangan mudah percayalah. Validasi semuanya." (intisari-online)

Editor: oda
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved