Meski Digaji Tak Sampai Setengah Juta Sebulan, Bidan Muda Ini Arungi Lautan demi Menolong Ibu Hamil

Meski gajinya hanya Rp360 ribu per bulan, putri dari pasangan suami istri Bahuddin dan Sisa ini, rela mengarungi lautan demi melayani ibu-ibu hamil.

Meski Digaji Tak Sampai Setengah Juta Sebulan, Bidan Muda Ini Arungi Lautan demi Menolong Ibu Hamil
tribunnews
Meski gajinya hanya Rp360 ribu per bulan, Masbah rela mengarungi lautan demi melayani ibu-ibu hamil 

TRIBUNJOGJA.COM - Digaji minim tidak membuat semangat Maspah (24) kendur. Bidan muda ini relah mengarungi lautan demi menolong ibu hamil yang jauh dari akses kesehatan.

Maspah biasa bertugas di Desa Pulau Ambo.

Pulau Ambo merupakan salah satu gugusan pulau di Kecamatan Kepulauan Bala-balakang, Kota Mamuju, Sulawesi Barat.

Mayoritas penduduk pulau ini adalah masyarakat Suku Mandar. Untuk sampai ke pulau ini, Maspah membutuhkan waktu sekitar sekitar tujuh jam menggunakan perahu kayu dari Kota Mamuju.

Meski gajinya hanya Rp360 ribu per bulan, putri dari pasangan suami istri Bahuddin dan Sisa ini, rela mengarungi lautan demi melayani ibu-ibu hamil yang membutuhkan tenaganya.

“Hanya dapat jasa BPJS, paling tinggi itu Rp360 ribu sebulan, selebihnya itu biasa ada masyarakat mengerti kalau berobat atau dilayani ada yang kasih sekitar Rp10 ribu sampai Rp20 ribu,” kata Maspah kepada TribunSulbar.com, Kamis (20/4/2017).

Tak sekali-dua terlinta di pikiran Maspah untuk berhenti dari pekerjaannya karena upah yang minim.  Tapi ia tidak tega lebih-lebih karena masyarakat begitu membutuhkannya.

“Kalau bukan kita siapa lagi karena sangat jarang ada yang mau bekerja seperti kami,” ujar Maspah dengan mata berkaca-kaca.

Alumni STIKES Fatimah Mamuju itu menuturkan, sebelumnya ia bertugas di Pulau Sabakkatan selama tiga tahun enam bulan.

“Dulu saya bertugas di Pulau Sabakkatan, jadi setiap tiga bulan saya kembali lagi ke Pulau Ambo,” tambahnya.

Jarak tempuh dari Pulau Ambo ke Pulau Sabaklatan membutuhkan waktu sekitar empat jam.

Lepas dari itu, Maspah mengaku merasa sangat bahagia, bila ada orang sakit lantas ia bisa mengobatinya.

Meski demikian, terkadang juga ia merasa berkecil hati bila ada warga sakit namun dia tak mampu mengobatinya.

“Kondisi seperti itulah kadang membuatku berkecil hati, apa lagi kalau mau dirujuk ke Mamuju baru besar ombak, bisanya kita hanya bersabar,” kata Maspah menceritakan perjuangannya.

Ia berharap, kedepannya ada perhatian lebih baik dari pemerintah untuk pekerja medis seperti mereka yang bertugaS di pulau terpencil. Ia ingin nasibnya lebih jelas. (tribunsulbar)

Editor: oda
Sumber: Tribunnews
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2020 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved