Rumah Sumanto Si Kanibal Direnovasi karena Tak Layak Huni
Rumah milik Sumanto, yang dulu dikenal sebagai manusia kanibal pemakan mayat itu mulai dibedah pada pertengahan Februari 2017.
Seusai melihat rumah Sumanto, dia lalu memberi sumbangan untuk menutupi kekurangan biaya pembangunan.
Dia pun minta agar pengerjaan rumah dilakukan secepat mungkin agar bisa segera ditempati kembali.
“Saya minta segera dibangun, kalau bisa dua bulan sudah bisa ditempati,” pinta Yudi, dalam siaran tertulisnya, Selasa (20/2/2017).
Tinggal di kandang kambing
Setelah rumahnya dirobohkan, keluarga Sumanto kini tinggal sementara di bekas kandang kambing di sebelah rumahnya.
Tempat itu yang biasa digunakan sebagai dapur masak.
Sementara bekas kayu yang masih bagus disimpan untuk digunakan kembali di rumah barunya.
Keluarga Sumanto tidak mampu untuk memperbaiki rumahnya karena keterbatasan ekonomi.
Penghasilan keluarga hanya Rp 30.000 per hari dari kegiatan menjual tempe dan tukang pijat.
Ibu Sumanto, Samen berprofesi sebagi penjual tempe keliling.
Sementara saudaranya, Karyono berprofesi sebagai tukang pijat, dan Mulyati sebagai pembuat rambut palsu.
“Semua habis untuk membeli beras dan kebutuhan lainnya. Jadi, cukup untuk makan saja,” timpal Karyono, saudara Sumanto.
Sumanto sendiri sempat terkenal sebagai pemakan mayat asal Purbalingga.
Pada 2003, ia mencuri mayat nenek bernama Mbah Rinah lalu memakan daging jenazah itu.
Kepada polisi, Sumanto mengaku sedang memperdalam ilmu di bawah bimbingan seorang "guru".
Dengan memakan mayat, dia akan menjadi kebal, tak terluka oleh goresan senjata, dan mendapat ketenangan batin.
Setelah beberapa kali mendapat remisi, Sumanto dibebaskan pada 24 Oktober 2006, bertepatan dengan Idul Fitri.
Saat ini, dia tinggal di Wisma Rehabilitasi di Purbalingga. (Kompas.com/Kontributor Semarang, Nazar Nurdin)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/rumah-suamnto_20170221_125350.jpg)