Berseni dalam Menunggu
Komunitas pecinta sketsa ini mengisi banyak waktu menunggunya dengan menggambar.
Penulis: Gaya Lufityanti | Editor: Muhammad Fatoni
Laporan Reporter Tribun Jogja, Gaya Lufityanti
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Jika menunggu adalah hal yang paling membosankan bagi banyak orang, namun tidak bagi Indonesia Sketchers Jogja.
Komunitas pecinta sketsa ini mengisi banyak waktu menunggunya dengan menggambar.
Mengekor komunitas Indonesia Sketchers di Jakarta yang didirikan sejak 2009 silam, Indonesia Sketcher Jogja (ISJ) lantas berdiri pada Februari 2011.
Awalnya, komunitas ini hanya berisian belasan orang hingga kemudian bertambah pada usianya yang hampir 6 tahun ini.
Tak hanya mewadahi seniman gambar, komunitas ini juga menaungi penggemar gambar-gambar sketsa di Yogyakarta. Karenanya, anggotanya pun datang dari ragam usia dan profesi.
Anggota termuda adalah pelajar berusia 17 tahun, sedangkan anggota tertua berusia 60 tahun.
Selebihnya mereka berprofesi sebagai mahasiswa, guru, karyawan, ibu rumah tangga hingga dosen.
”Selain mewadahi pecinta sketsa, kami memiliki misi untuk berbagi cerita kehidupan sehari-hari dan mengenalkan Yogyakarta melalui sketsa,” ujar Ketua ISJ, Yusup Rendy.
Bagi Rendy sendiri, menggambar awalnya merupakan kewajibannya sebagai mahasiswa arsitektur. Lama kelamaan, menggambar pun menjadi hobinya. Dengan menekuni hobinya menggambar, Rendy mengaku lebih bisa menghargai waktu dalam menunggu.
”Mungkin orang lain menganggap menunggu itu membosankan, tapi bagi kami saat menunggu bisa digunakan untuk menggambar. Dengan waktu menunggu itupun, kita bisa menemukan sisi-sisi menarik dari objek yang digambar,” kata Rendy yang hobi menggambar sketsa bangunan ini.
Tidak jauh berbeda dengan Rendy, Fitria Puspita Rani juga sering membawa peralatan menggambarnya kemana pun ia pergi. Karena jika ada kesempatan menggambar, ia akan segera menggambar apa yang dilihatnya.
Bagi Fitri, menggambar dapat melatihnya untuk fokus dan menangkap hal-hal jadi lebih intens, tidak terburu-buru.
”Meskipun terkesan seperti gambar yang belum jadi, sketsa itu bisa seperti jurnal sehari-hari, gambar sketsa harus cepat menangkap hal esensial apa yang ingin disampaikan. Penangkapan hal yang esensial itupun dilakukan dengan fokus dan tidak terburu-buru, jadi lebih intens dalam menggambar,” paparnya.
Dengan bergabung dalam komunitas, anggota ISJ memiliki wadah untuk sharing dan memperluas pertemanan. Dari sisi teknik menggambar, tidak jarang pula mereka saling berbagi pengetahuan, teknik maupun alat-alat yang dipergunakan sehingga dapat mengasah keterampilan menggambar.
Di sisi lain, hasil gambar yang bagus dapat membuka peluang komersil. Beberapa anggota ISJ sempat menorehkan prestasi dalam kompetisi atau sayembara.
Adapula anggota yang kemudian mendapat orderan untuk menggambar sketsa wajah, sampai mural di cafe maupun ruang publik. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/komunitas-menggambar_20170130_173343.jpg)