Begini Ciri-ciri Hewan yang Terinfeksi Antraks
Adanya penyakit antraks pada hewan membuat masyarakat resah terutama untuk para pemilik hewan ternak.
Laporan Reporter Magang Tribun Jogja, Mediana Maharani
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Adanya penyakit antraks pada hewan membuat masyarakat resah terutama untuk para pemilik hewan ternak.
Departemen Kesehatan Masyarakat Veteriner Fakultas Kedokteran UGM, Widagdo Sri Nugroho menjelaskan kasus terjadinya antraks pada hewan, Rabu (25/1/2017).
Antraks terjadi diakibatkan oleh Bacillus Anthracis dan spora tersebut mampu germinasi, multiplikasi dan sporulasi diluar tubuh pada suhu 8 hingga 45 derajat celcius.
“Selama bakteri itu tidak terpapar oksigen, bakteri tersebut akan mudah dikendalikan dan antraks tidak ditularkan melalui kontak langsung (hewan) kecuali hewan tersebut mengkonsumsi bahan-bahan yang tercemar oleh Bachillus Anthracis,” katanya.
Penularan pada hewan hanya terjadi pada hewan peka yaitu hewan herbivora seperti sapi, kerbau, kambing, domba dan kuda serta burung unta.
Penularan antraks itu juga bisa diakibatkan oleh vektor lalat penghisap darah seperti tabanus SP yang mengandung bakteri Bacillus Anthracis.
Widagdo juga menjelaskan gejala klinis penyakit pada hewan yang terkena antraks yaitu dibagi empat per akut, akut, kronis dan kulit.
“Jika per akut, hewan mati mendadak akibat pendarahan di otak, hewan akan tidak seimbang, gigi gemertak dan mati dengan lubang tubuh keluar darah sert berlangsung beberapa jam,” katanya.
Namun, hewan yang memiliki gejala klinis akut seperti demam jika kuda mencapai 41,5 derajat celcius dan sapi 42 derajat celcius.
Hewan ini akan merasa gelisah, depresi, sesak nafas, pembengkakan pada leher, dada, isi perut, pinggang dan kelamin keluar serta keluar darah kehitaman encer dari lubang tubuh dan kematiannya pada jangka waktu 1 sampai 3 hari.
Selain itu ada yang memiliki gejala kronis yaitu terdapat luka lokal di lidah, penyakit berakhir 10-36 jam, atau berangsur sembuh bila infeksinya kronis yang ringan.
Namun, jika gejala pada kulit maka hewan tersebut akan mengalami pembengkakan pada beberapa bagian tubuh pada sapi dan kuda.
Selain itu, Instansi Balai Besar Veteriner Wates, Indarto Sudarsono memaparkan beberapa pengendalian penyakit antraks.
“Ada 10 cara pengendalian antraks yaitu pengobatan, isolasi penderita, vaksinasi, desinfeksi, pengawasan lalu lintas ternak, ketentuan ketat dalam pemotongan ternak di lokasi kasus, penanganan bangkai penderita pengiriman sampel untuk uji lab, pemantauan penyelidikan dan report,” ucapnya. (tribunjogja.com)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/peternak-cemas-antraks_20170119_174633.jpg)