Tantangan Pemulihan Pasca-Sakit Berat, Nafsu Makan Jadi Perhatian Utama

Masa pemulihan setelah sakit berat, termasuk kanker, kerap menjadi fase yang penuh tantangan.

Penulis: Hanif Suryo | Editor: Hari Susmayanti
grid.id
jahe kunyit sereh temulawak 

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA – Masa pemulihan setelah sakit berat, termasuk kanker, kerap menjadi fase yang penuh tantangan.

Selain memulihkan kekuatan fisik, banyak penyintas juga menghadapi penurunan nafsu makan, padahal tubuh membutuhkan asupan nutrisi untuk membantu regenerasi sel dan menjaga daya tahan.

Kondisi tersebut membuat edukasi kesehatan menjadi penting, terutama terkait cara membantu tubuh menerima kembali nutrisi tanpa membebani sistem pencernaan yang masih sensitif.

Sejumlah pendekatan nutrisi modern menyoroti peran kombinasi senyawa alami atau fitonutrien yang bekerja secara sinergis dalam mendukung metabolisme tubuh.

Penurunan nafsu makan pada masa pemulihan dipahami sebagai persoalan menyeluruh. Tubuh membutuhkan energi, tetapi fungsi pencernaan belum sepenuhnya pulih.

Dalam praktik kesehatan berbasis herbal, rimpang seperti temulawak dan temu putih kerap dimanfaatkan untuk membantu fungsi pencernaan dan kebugaran tubuh secara bertahap.

Baca juga: Minibus Tabrak Truk Tronton di Sentolo Kulon Progo, Satu Orang Terluka

Brand Manager Zymuno, Sendhi Dhania, mengatakan pendekatan tersebut menempatkan pemulihan kondisi tubuh sebagai langkah awal sebelum nafsu makan kembali meningkat.

“Fokusnya bukan sekadar merangsang rasa lapar, tetapi membantu tubuh terasa lebih bugar terlebih dahulu. Ketika kondisi fisik membaik, nafsu makan biasanya akan mengikuti,” ujar Sendhi.

Ia menjelaskan, produk kesehatan berbasis madu dan herbal umumnya mengombinasikan madu sebagai sumber energi dengan berbagai ekstrak tanaman yang memiliki fungsi berbeda.

Temu putih, meniran hijau, daun kelor, dan temulawak dikenal mengandung senyawa aktif yang berperan dalam menjaga metabolisme, mendukung sistem imun, serta membantu fungsi organ vital selama masa pemulihan.

Menurut Sendhi, pemahaman masyarakat terhadap komposisi dan dosis bahan juga menjadi hal penting agar asupan tambahan tidak justru membebani tubuh.

Terlebih bagi penyintas sakit berat, keamanan jangka panjang perlu menjadi perhatian utama.

“Transparansi formulasi dan proses pengujian menjadi bagian dari edukasi kesehatan yang perlu disampaikan kepada masyarakat,” katanya.

Ia menambahkan, produk pendukung kesehatan yang beredar sebaiknya telah melalui pengujian dan memenuhi regulasi yang berlaku, termasuk perizinan dari BPOM dan sertifikasi halal, sebagai jaminan keamanan konsumsi.

Pemulihan pasca-sakit berat merupakan proses bertahap yang membutuhkan waktu.

Dengan pendekatan nutrisi yang tepat dan pemahaman yang baik, kembalinya nafsu makan dan stamina dapat menjadi bagian dari upaya menjaga kualitas kesehatan dalam jangka panjang. (*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved