Pasien Keluhkan Tanggungan BPJS Terkait Cuci Darah

Pihak BPJS menyebut, aturan tersebut tidak kaku dan bisa melihat pada kondisi pasien.

Pasien Keluhkan Tanggungan BPJS Terkait Cuci Darah
BPJS
Badan Penyelenggara Jaminan Sosial 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Ikrar Gilang Rabbani

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Lembaga Ombudsman (LO) DIY menerima aduan adanya pasien gagal ginjal yang mengeluh, berkurangnya kesempatan cuci darah yang ditanggung oleh BPJS Kesehatan.

Pihak BPJS menyebut, aturan tersebut tidak kaku dan bisa melihat pada kondisi pasien.

Komisioner Bidang Monitoring dan Evaluasi LO DIY Hartoto Adi mengatakan, sejak akhir Oktober 2016, instansinya menerima keluhan dari pasien gagal ginjal peserta BPJS.

Pasien tersebut mengeluhkan berkurangnya tanggungan BPJS terhadap proses cuci darah, dari semula tiga kali menjadi dua kali per minggu.

"Pengadu merupakan pasien lama yang terbiasa cuci darah tiga kali dalam seminggu, sehingga ketika BPJS hanya menanggung dua kali dalam seminggu, pengadu merasa keberatan," ujar Adi pada Minggu (22/1/2017).

Adi menjelaskan, LO DIY sangat berhati-hati dalam menangangi kasus ini, pasalnya LO DIY harus melakukan kajian standar dan kualitas medis sehingga kebijakan tersebut muncul. LO DIY segera mempertemukan Konsultan Ginjal Hipertensi (KGH) sebagai dokter ahli untuk memberikan penilaian dan rekomendasi bagi pasien.

"Dari pertemuan itu diharap bisa memberikan solusi atas kebijakan yang menurut pasien gagal ginjal, pengurangan cuci darah dirasa memberatkan," ungkapnya.

Terpisahh, kepala BPJS Kesehatan Cabang Yogyakarta, dr Sri Mugirahayu AAK., mengatakan hasil rekomendasi Pernefri menyebutkan bahwa cuci darah yang memenuhi syarat cukup dua kali seminggu dengan masing-masing selama lima jam. Sri menjelaskan bahwa aturan tersebut juga tidak kaku dan mengacu pada kondisi pasien.

"Tapi jika ada hal khusus dan harus tiga kali seminggu, harus ada rekomendasi dari dokter konsultannya dan dijelaskan kenapa harus perlu tiga kali seminggu. Bukan berarti tidak ada penjaminan, tapi harus ada keterangan medis kenapa perlu sampai tiga kali seminggu," jelasnya.

Sri menambahkan, perlu juga dilakukan evaluasi apakah sebuah rumah sakit telah sesuai melakukan proses cuci darah dengan durasi lima jam.

Bila tidak, ia berasumsi, hal itu yang menjadi penyebab kondisi pasien memburuk sehingga harus cuci dara tiga kali atau lebih dalam seminggu. (*)

Penulis: gil
Editor: ton
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2019 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved