Harga Cabai Mahal Bukan Masalah bagi Ibu-ibu Ini
Dua puluh pohon cabai yang ia tanam di pekarangan depan rumah, cukup untuk memenuhi kebutuhan dapurnya sehari-hari.
Perawatan tanaman di pekarangan cukup mudah.
Sumira cukup menyirami tanamannya dengan air setiap pagi dan sore hari.
Sesekali ia menyemprotkan pupuk organik yang ia buat sendiri agar pertumbuhan tanaman bisa lebih optimal.
Sebelum tanamannya mati, ia telah menanam bibit baru untuk menggantikan tanaman yang mulai tidak produktif.
"Jadi saat tanaman tidak lagi produktif, sudah ada tanaman baru lagi yang mengganti. Sehingga bisa panen terus biar gak beli,"katanya
Selain Sumira, sejumlah ibu rumah tangga di RT 6 RW 1 juga melakukan hal sama.
Pemandangan berbeda terlihat ketika memasuki kampung itu. Hampir setiap rumah memiliki pekarangan mini yang dihiasi beraneka macam tanaman hijau.
Miswono, Ketua RT 6 RW 1 mengatakan, ada sekitar 30 rumah tangga di lingkungannya yang memanfaatkan tanah pekarangan untuk bercocok tanam.
Karena keberhasilan mereka memanfaatkan tanah pekarangan, kampung itu mampu mengharumkan nama desa dan kecamatan Kalibagor di tingkat kabupaten.
"Desember 2016 lalu kami meraih juara 2 lomba pemanfaatan tanah pekarangan tingkat Kabupaten yang diadakan Pemerintah Kabupaten Banyumas,"katanya
Penghargaan itu ternyata mampu memotivasi warga untuk lebih menggiatkan pemanfaatan tanah pekarangan untuk bertanam.
Menurut Miswono, jumlah rumah tangga terlibat dalam progran itu terus bertambah.
Bahkan, tak jarang warga dari desa lain menyengaja datang ke kampungnya untuk melihat langsung keberhasilan pemanfaatan tanah pekarangan warga.
"Harapannya semua bisa memanfaatkan tanah pekarangannya. Kebutuhan sekarang semakin banyak. Kalau bisa untuk kebutuhan dapur, ibu rumah tangga bisa mencukupi sendiri sehingga gak harus beli,"ujarnya. (Tribun Jateng/khoirul muzaki)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/petik-cabai_20170120_221244.jpg)