Harga Cabai Mahal Bukan Masalah bagi Ibu-ibu Ini
Dua puluh pohon cabai yang ia tanam di pekarangan depan rumah, cukup untuk memenuhi kebutuhan dapurnya sehari-hari.
TRIBUNJOGJA.COM, BANYUMAS - Sebagian ibu rumah tangga tengah kesusahan lantaran harga cabai melambung tinggi akhir-akhir ini.
Namun itu demikian tidak berlaku bagi Sumira (50), ibu rumah tangga dari desa Kalibagor, Kecamatan Kalibagor,Banyumas.
Ia mengaku tidak terpengaruh dengan kenaikan harga cabai di pasaran, berapapun jumlah kenaikannya.
"Saya tidak terpengaruh, walau harga cabai mahal saya tenang-tenang saja. Soalnya saya tidak membeli,"katanya, Jumat (20/1).
Dua puluh pohon cabai yang ia tanam di pekarangan depan rumah, cukup untuk memenuhi kebutuhan dapurnya sehari-hari.
Saat butuh untuk memasak, Sumira tinggal memetik beberapa biji cabai yang masih segar di pekarangan, seperlunya.
Pekarangan Sumira tidaklah luas, hanya seukuran 2x4 meter yang merupakan sisa tanah depan rumah.
Namun jangan salah, beraneka tanaman untuk kebutuhan dapur tersedia di pekarangan mini itu.
Bermacam tanaman sayur, di antaranya cabai, tomat, terong, bayam, brokoli, daun bawang, kubis, pepaya dan sawi tumbuh merimbun sampai menutupi pemandangan muka rumah.
Sumira sudah merencanakan betul jenis tanaman yang akan ia pelihara di pekarangan.
Prinsipnya, sepanjang kebutuhan masaknya bisa ditanam, ia akan memproduksinya sendiri.
Alhasil, Sumira menjadi ibu rumah tangga yang jarang pergi ke warung.
Sesekali saja ia ke warung untuk membeli beberapa kebutuhan yang tidak dimilikinya, antara lain minyak goreng dan gula.
Terkadang, ia ke warung untuk menjual kelebihan hasil pertanian di lahan pekarangannya.
"Hampir semua kebutuhan dapur sudah tersedia di rumah. Saya bisa berhemat pengeluaran. Jadi uangnya bisa dialihkan untuk kebutuhan lain, di antaranya biaya sekolah anak,"katanya
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/petik-cabai_20170120_221244.jpg)