Lipsus Kebutuhan Rumah
Ngimpi, Bisa Beli Rumah di DIY
Masyarakat berpenghasilan menengah ke bawah termasuk kaum pekerja dan buruh di DIY terancam tidak bisa membeli dan memiliki rumah.
Penulis: dnh | Editor: oda
Pembeli Luar Yogya
Di satu sisi masyarakat menengah kebawah yang tinggal dan bermukim di Yogyakarta sulit mendapatkan rumah, di sisi lain orang luar DIY berlomba memiliki rumah di Yogyakarta.
Berdasar data Real Estat Indonesia (REI) DIY 65 hingga 75 persen pembeli rumah berasal dari luar DIY.
Khususnya yang harga di atas Rp 500 juta, karena sebagian besar rumah yang dijual oleh anggota REI ada rumah yang memiliki harga di kisaran tersebut.
Pembeli atau end user tersebut memiliki profil berbasis pertambangan, perkebunan seperti Kalimantan dan Sumatera.
Menurut Ketua Dewan Pengurus Daerah (DPD) REI DIY, Andi Wijayanto alasan utama mereka adalah untuk fasilitas dari anak-anak mereka yang sedang bersekolah di Yogyakarta.
"Motif seperti itu banyak mendominasi pembelian harga menengah 500 juta ke atas," ujarnya ditemui pekan kemarin.
Sosiolog Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY), Zuly Qodir mengatakan bahwa saat ini Yogyakarta dan sekitarnya sudah menjadi kota sub urban.
Masyarakat berlomba untuk datang dan menetap di Yogyakarta, bukan hanya sekedar mencari ilmu.
Ini memicu masalah, disaat orang luar Yogyakarta datang dengan standar pendapatan yang lebih tinggi dibanding dengan orang lokal yang sudah lama menetap terutama yang memiliki pendapatan menengah ke bawah.
Dengan kemampuan finansial yang lebih baik tentu ini akan sulit untuk disaingi oleh orang lokal. Sementara disaat ada daya beli maka harga akan semakin naik.
"Kalau ini terus menerus begitu apa yang disebut ekonomic conflict yang datangnya dari sosial konflik dari soal gap ekonomi akan semakin kelihatan. Para buruh pasti akan memprotes itu, tetapi buruh tidak bisa membeli karena uangnya tidak akan mencukupi," ujarnya Sabtu (7/1/2017) pekan kemarin. (*)