Cabai, Bumbu Terpenting Nomor Dua

Meskipun mahal, cabai tetap dicari pembeli, terlebih ada kebiasan makan pedas di masyarakat Indonesia, cabai akan terus dicari.

Penulis: dnh | Editor: Ikrob Didik Irawan
tribunjogja/azka ramadhan
Salah satu pedagang komoditas bumbu dapur di Pasar Rejowinangun, Kota Magelang, Minggu (27/11/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Dwi Nourma Handito

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Cabai menjadi buah bibir akhir - akhir ini karena harganya yang meroket.

Meskipun mahal, cabai tetap dicari pembeli, terlebih ada kebiasan makan pedas di masyarakat Indonesia, cabai akan terus dicari.

Cabai diketahui sebagai salah satu bumbu terpenting untuk hidangan di Indonesia.

Bahkan menurut Murdijati Gardjito, peneliti Pusat Kajian Makanan Tradisional (PMKT), Pusat Studi Pangan dan Gizi UGM, Cabai adalah bumbu terpenting nomor dua.

"Jadi kalau kita melihat lima bumbu terpenting, pertama adalah garam, garam terdapat di semuanya. Kemudian cabai, bawang merah, bawang putih, kemudian yang kelima macam macam tergantung lokasinya (daerah)," ujarnya kepada Tribun Jogja, Senin (9/1/2017).

Lebih lanjut, menurutnya, empat bumbu yang disebutkan diatas menjadi empat bumbu terpenting di Indonesia.

"Karena di seluruh Indonesia itu ada 3295 hidangan, kalau dilihat sebarannya yang pakai cabai itu, bumbu untuk masing-masing itu (hidangan) urutan rangkingnya seperti itu," katanya.

Sehingga memang cabai menduduki posisi yang penting untuk menyediakan hidangan.

"Jadi saya tidak bicara ekonomi, karena semua sudah mengetahui. Ekonomi dan iklim sudah tau semua. Tetapi dari sisi kulinernya seperti itu," ujarnya lagi.

"Jadi dari sisi hidangan, cabai merupakan kebutuhan yang tidak bisa diempet atau ditahan. Sehingga harga berapapun pasti dibeli, hanya sekarang itu cabai dibatasi oleh yang jual," lanjutnya.

Sementara itu, menurut Murdijati, dilihat dari sisi manusianya.

Orang Indonesia dianggap sudah terlanjur punya budaya makan kerupuk dan sambal, itu dua hal yang tidak bisa ditinggalkan.

Tanpa kerupuk makan itu sepi, tanpa sambal makan itu hambar.

"Jadi sekarang konsekuensinya kalau kepengin dengan membayar harga yang sama harus mengorbankan kenikmatan," katanya.

Karena menurutnya ada orang yang tidak bisa makan tanpa sambal, dan ada yang bisa makan tanpa sambal.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved