KOLOM 52
Aku, Tetanggaku dan Anakku
Percakapan ringan dengan tetanggaku di kompleks perumahan yang rumahnya berdampingan
Penulis: Mona Kriesdinar | Editor: Mona Kriesdinar
'Selamat hari raya bu, pak'
'Matur nuwun sanget mas'
'Alhamdulillah saya juga kebagian enaknya bu, dapat hari liburnya hehe'
'Hehe sama mas, kalau lebaran juga kami dapat libur, malah sama kayak mudik, jatah kumpul keluarga besar'
Itulah percakapan saya siang ini dengan tetangga di kompleks perumahan kami. Rumahnya berdampingan bahkan kami tinggal di dinding yang menempel satu sama lain. Kalau ada barang pecah di rumah kami, pasti terdengar sampai ke tetangga, begitu pula sebaliknya. Begitu juga jika sampai ada apa-apa dengan kami atau mereka, pasti salah satu dari kami lah yang pertama datang, setidaknya salah satu diantara kami yang paling cepat datang memberikan pertolongan. Ya karena mereka lah yang jaraknya paling dekat dengan rumah kami.
Selang satu jam setelah percakapan itu, tetangga kami ini datang bertamu. Mengantarkan makanan. Ada empat cup es krim berwarna cokelat dan pink, ada tape ketan berwarna hijau, ada juga kue bolu cokelat dan beberapa wajik yang juga berwarna cokelat.

Oleh-oleh dari tetanggaku
Anak saya langsung menyerbu, menghabiskan es krim itu. Katanya rasanya enak, sama kayak es krim yang biasa saya belikan. Dia habiskan tiga cups, hanya satu yang disisakan.
'Ayah mau?'
'Iya, sisakan buat ayah satu ya'
Dia pun melanjutkan melahap es krim tanpa bertanya dari mana datangnya es krim ini. Yang dia tahu, baru saja es krim itu diberi oleh tetangga. Mungkin dalam pikirannya ia teringat apa yang biasa saya sampaikan. 'Berbagilah sama teman-teman'.
Ya, memang tak terhitung sudah berapa banyak makanan yang saling kami bagi. Terakhir kali sebelum ini, mereka juga datang sekitar jam 8 malam. Mengetuk gerbang rumah kami perlahan-lahan.
'Permisi, Assalamualaikum'
Tak usah ditanyakan, terkadang memang demikian. Kami yakin, itulah cara mereka menghargai kami, menghargai hubungan antar sesama manusia, menghargai antar tetangga, ini soal habluminannas. Ini juga yang sering saya dengar ketika hadir di sebuah acara pertemuan.
'Assalamu'alaikum, salam sejahtera, Om Swastyastu'. Kalimat pembuka inilah yang biasa saya dengar.
Ya mereka ikut mendoakan kami. Sebagai balasannya, kami pun mendoakan mereka.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/praying-hand_2512_1_20161225_192521.jpg)