Breaking News:

Pesta Keroncong di Pasar saat Hujan

Meski Yogyakarta diguyur hujan dari pagi hingga malam hari, hal tersebut tidak menyurutkan minat masyarakat menyaksikan event musik keroncong.

tribunjogja/hamim thohari
Penyanyi keroncong Subarjo HS, saat tampil di Pasar Keroncong Kotagede 2016, Sabtu (3/12/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pasar Keroncong Kotagede kembali di gelar, Sabtu (03/12/2016) malam.

Meski Yogyakarta diguyur hujan dari pagi hingga malam hari, hal tersebut tidak menyurutkan minat masyarakat menyaksikan event musik keroncong tahunan tersebut.

Widayat (28), satu diantara penonton mengatakan dirinya memang telah mengagendakan menyaksikan Pasar Keroncong Kotagede 2016. "Meski hujan, tetapi saya dan beberapa teman tetap berangkat," ujar Widayat.

Bersama penonton Pasar Keroncong Kotagede 2016, Widayat dapat menikmati alunan musik keroncong dari tiga panggung yang tersebar di beberapa titik sekitar Pasar Legi Kotagede.

M. Natsir, penggagas Pasar Keroncong Kotagede mengatakan, digelaran keduanya, event keroncong ini menghadirkan delapan orkes keroncong asli Kotegede, dan delapan orkes keroncong dari beberapa daerah.

Beberapa pengisi acara ini adalah Oppie Andaresta, Woro (di atas rata-rata), Syaharani, Subarjo HS, Yati Pesek, Retno Handayani, Orkes Keoncong Rinonce, Orkes Keroncon Cahaya Muda, Orkes Keroncong Chandra Kirana dan beberapa pengisi lainnya.

Mereka menghibur penonoton di panggung Sayangan yang berada di barat pasar, panggung Sopingen di barat daya pasar, dan panggung Loring Pasar yang tepat berada di utara pasar.

Acara yang dimulai sekitar pukul 19.30 tersebut dibuka oleh seniman Slamet Rahardjo. Dalam kesempatan ini pula diberikan penghargaan kepada Koesbini atas jasanya dalam perkembangan musik keroncong.

"Digelarnya Pasar Keroncong Kotagede tak lepas dari sejarah keroncong yang tumbuh dengan baik di wilayah yang terkenal akan kerajinan peraknya," ujar M. Natsir.

Di Kotagede ini keroncong berkembang pesat dengan lahirnya beberapa orkes keroncong dan ragamnya, seperti moor, stambul, keroncong beat yang terpengaruh The Beatles hingga dangdut.

"Saya berharap agar event tahunan ini terus berlangsung sebagai media untuk melestarikan musik keroncong," pungkasnya. (*)

Penulis: Hamim Thohari
Editor: oda
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved