Sinergi Koperasi dan UMKM, Modal Hadapi Pasar Modern
Diharapkan, nantinya koperasi dan UMKM di Sleman semakin kuat, mandiri, dan tangguh, serta berdaya saing tinggi.
Penulis: Singgih Wahyu Nugraha | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Singgih Wahyu Nugraha
TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Keberadaan koperasi perlu dikembangkan lebih luas lagi untuk menunjang perekonomian masyarakat. Utamanya, pengembangan koperasi dalam sektor usaha riil perdagangan.
Hal ini menurut Bupati Sleman, Sri Purnomo supaya koperasi mampu bersaing dalam lingkup pasar modern yang kian banyak pemainnya. Ia berharap, koperasi yang tumbuh di masyarakat tidak hanya berbasis simpan pinjam melainkan juga koperasi yang berperan di sektor riil dan mampu memfasilitasi Usaha Mikro, Kecil, Menengah (UMKM).
"Tidak hanya di sisi permodalan tapi juga peningkatan pengetahuan dan wawasan bisnis, akses pasar domestik dan internasional, serta distribusi produk secara domestik maupun internasional," kata Sri saat meninjau Pameran Hari Koperasi Internasional di halaman Kantor Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindagkop) Sleman, Senin (7/11/2016).
Pihaknya mengajak semua pihak penggiat koperasi serta pelaku UMKM untuk berpartisipasi dalam perdagangan global dengan meningkatkan kemampuan dan kapasitas masing-masing.
Diharapkan, nantinya koperasi dan UMKM di Sleman semakin kuat, mandiri, dan tangguh, serta berdaya saing tinggi.
"Sehingga, ke depan, koperasi-koperasi dan UMKM di Sleman mampu berdaya saing mengikuti pasar modern," kata Sri Purnomo.
Kepala Dinas Perindustrian Perdagangan dan Koperasi (Disperindakop) Sleman, Pustopo mengatakan, secara omzet, koperasi sektor riil sebetulnya bisa lebih berkembang dan menguntungkan anggotanya.
Hal ini terlihat dari jenis usaha koperasi berskala besar yang kebanyakan bergerak di sektor riil.
"Pada taraf tertentu, hal ini juga turut mendongkrak pertumbuhan ekonomi daerah," katanya.
Pengelola koperasi pun membenarkan bahwa sektor usaha riil mendatangkan keuntungan jauh lebih besar dibandingkan simpan pinjam.
Bendahara Koperasi Pemasaran Loho Jaya, Sri Setoyo Dewi menyebut, sewaktu koperasinya berbentuk usaha simpan pinjam, keuntungan perbulan hanya sekitar Rp15juta-20juta.
Namun setelah berubah jadi koperasi pemasaran, keuntungannya bisa tumbuh dua kali lipat.
"Keuntungan meningkat jadi Rp 40juta-55juta per bulan," katanya.
Selain itu, kreativitas anggota juga semakin berkembang. Hal ini terbukti dengan munculnya produk-produk baru yang dititipkan anggota pada koperasi.
Adapun produk yang dipasarkan di Koperasi Loho Jaya berupa kerajinan, yakni kain tenun, batik, songket, stagen, dan tas rajut. (*)
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/koperasi_20160905_210434.jpg)