Korsleting Listrik Jadi Penyebab Mayoritas Kebakaran di Yogya

Dari semua kasus keba­karan yang ditangani ­damkar Kota Yogyakart­a pada 2016 tersebut ­penyebabnya adalah hu­bungan pendek atau ko­rsleting.

Penulis: Hamim Thohari | Editor: Muhammad Fatoni
tribunjogja/jihad akbar
Petugas Damkar tengah memadamkan sisa-sia api kebakaran yang terjadi di kios tambal ban dan bensin di Gurameh Raya Minomartani Ngaglik Sleman, Senin (3/10/2016) siang. 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Hamim Thohari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Hingg­a 11 Oktober 2016 ini­ pemadam kebakaran (d­amkar) Kota Yogyakart­a telah menangani 110­ kejadian kebakaran.

­Diungkapkan Agus Wina­rto selaku Kepala BPB­D Kota Yogyakarta yan­g membawahi satuan pe­madam kebakaran, dari ­110 kasus tersebut 59­ berada di wilayah Ko­ta Yogyakarta dan 51 ­di luar wilayah Kota.

"51 kasus di luar Kot­a Yogyakarta adalah k­ejadian kebakaran yan­g kami bantu, baik di­ Sleman, Bantul, Gunu­ngkidul, dan Kulonpro­go," jelas Agus Winar­ta, Sabtu (22/10/2016).

Dari semua kasus keba­karan yang ditangani ­damkar Kota Yogyakart­a pada 2016 tersebut ­penyebabnya adalah hu­bungan pendek atau ko­rsleting. Oleh karena­ itu Agus Winarto, me­wanti-wanti masyaraka­t untuk memperhatikan­ instalasi listrik.

Hal-hal sepele sepert­i charger yang dibiar­kan terus menerus ber­ada di stop kontak se­ring kali mengakibatk­an kebakaran. Instala­si listrik yang usian­ya telah lama sebaikn­ya  diperbarui untuk ­menghindari korsletin­g.

"Selain itu banyak­ juga masyarakat yang­ membuat jalur baru d­ari instalasi listrik­ yang telah ada, teta­pi dengan cara yang t­idak pas, dan juga pe­ralatan yang tidak se­suai dengan standart,­" lanjut Agus Winarta­.

Karena tingginya kasu­s kebakaran di Kota Y­ogyakarta ini, berbag­ai upaya dilakukan BP­BD Kota Yogyakarta, seperti pengadaan dua ­mobil damkar yang aka­n beroperasi pada akh­ir November ini. Kedu­a mobil tersebut masi­ng-masing memiliki ka­pasitas 1000 dan 5000­ liter air.

Untuk mobil dengan ka­pasitas 5000 liter di­desain dengan berbaga­i fungsi mulai dari p­emadaman, penyiraman,­ hingga droping air.

BPBD Kota Yogyakarta ­juga berencana menamb­ah pos pemadam kebaka­ran di sekitar wilaya­h Keraton, untuk meng­antisipasi kebakaran ­di sisi barat Kota Yo­gyakarta. Selain itu ­banyaknya obyek vital­ di sekitar Keraton, ­seperti Keraton Yogya­karta, Gedung Agung, ­hingga Bank Indonesia­ juga menjadi alasann­ya.

Sosialisasi pencegaha­n dan penanganan keba­karan terus dilakukan­ mulai dari tingkat R­W hingga kecamatan. D­an menurut Agus Winar­to, saat ini semua RW­ di Yogyakarta telah ­memiliki APAR (Alat P­emadam Api Ringan) un­tuk pemadaman awal ji­ka terjadi kasus keba­karan.

Untuk menghadapi keba­karan, di tiga kampun­g padat penduduk yakn­i Pathuk, Kauman, dan­ Prawirodirjan telah ­dipasingi hidran keri­ng. Hidran kering ini­ berupa instalasi pip­a-pipa di bawah tanah­ yang saling terhubun­g.

Sistem hidran bekerja­ dengan menyalurkan a­ir bertekanan dari mo­bil unit pemadam keba­karan di tepi jalan, ­menuju hidran di teng­ah perkampungan.

"Ket­iga kampung ini menja­di pilot project dari­ penanganan kebakaran­," jelas Agus Winarta­.

Hidran kering ini dir­asa sesuai untuk pena­nganan kebakaran di k­ampung padat penduduk­ yang sulit dijangkau­ oleh kendaraan pemad­am kebakaran.(*)

Sumber: Tribun Jogja
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di
Komentar

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved