Pagar Sekolah Ambrol, Bangunan SMPN 2 Prambanan Terancam Abrasi
Timbul yang saat itu berada di sebuah bangunan di lingkungan sekolah yang digunakannya sebagai warung pos jaga, tiba-tiba mendengar suara gemuruh.
Penulis: ang | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, KLATEN – Pagar setinggi tiga meter di belakang SMPN 2 Prambanan ambrol setelah diterjang arus deras sungai Pereng. Kondisi tersebut diduga lantaran abrasi yang terjadi pada bagian pondasi pagar yang berada di tepi sungai.
Informasi yang didapat Tribun Jogja, ambrolnya pagar belakang sepanjang 20 meter itu terjadi pada Sabtu (8/10/2016) sore. Kejadian tersebut pertama kali diketahui oleh penjaga sekolah, Timbul.
Saat kejadian, kondisi cuaca sedang hujan deras. Hal tersebut membuat arus sungai Pereng menjadi deras.
Kontur berupa tanah miring yang ditempati sekolah, membuat air hujan di halaman sekolah mengalir turun dan berkumpul di bagian belakang sekolah yang dibatasi pagar bata.
Sekitar pukul 15.00 WIB, hujan semakin deras dan arus sungai di belakang sekolah kian deras.
Timbul yang saat itu berada di sebuah bangunan di lingkungan sekolah yang digunakannya sebagai warung pos jaga, tiba-tiba mendengar suara gemuruh di timur warungnya.
Setelah diperiksa ternyata pagar sekolah ambrol hingga tersisa bagian pondasi yang sebagian rusak.
“Pagar dikepung air dari sungai dan halaman sekolah, karena tidak kuat hingga akhirnya ambrol,” katanya saat ditemui Rabu (12/10/2016).
Menurutnya peristiwa ambrolnya pagar tersebut bukan kali pertama. Sebelumnya sisi tengah pagar belakang dengan panjang mencapai 100 meter itu juga ambrol pada Mei 2015. Kejadian tersebut kembali terulang, giliran pagar di sisi barat yang ambrol pada Mei 2016.
“Baru beberapa bulan, pagar yang timur ikut ambrol. Sehingga bagian belakang sekolah sudah tidak ada pagar lagi,” paparnya.
Ia menjelaskan ambrolnya pagar yang dibangun pada 2004 itu lantaran pondasi yang sudah tidak kuat menahan beban di atasnya.
Pasalnya pondasi yang berupa batubata itu tidak lagi tertanam di dalam tanah melainnya hanya menempel di ujung lahan sekolah dan berbatasan langsung dengan sungai.
“Awal dibangun, pagar berjarak sekitar satu meter dari aliran sungai, masih ada sisa tanah yang membatasi pagar dengan sungai. Namun karena tidak dibangun talut permanen, sisa lahan terkikir arus sungai (abrasi) hingga menyisakan pondasi pagar,” ujar Timbul menjelaskan.
Sementara, petugas dari Tim Reaksi Cepat (TRC) Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Klaten yang datang untuk melakukan assesment menilai abrasi dapat terus terjadi jika tidak ada tindak lanjut.
Kondisi tersebut berpotensi mengancam bangunan milik sekolah yang paling dekat dengan lokasi ambruknya pagar.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/periksa-kondisi-pagar-smpn-2-prambanan_20161012_224754.jpg)