Diskusi dan Bedah Buku Kitab Pembebasan
Kitab pembebasan adalah sebuah buku yang dicetak ulang dengan sampul dan epilog yang berbeda.
Penulis: app | Editor: oda
Laporan Reporter Tribun Jogja, Arfiansyah Panji Purnandaru
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Kitab Pembebasan: Tafsir Progresif Atas Kisah-kisah dalam Alquran adalah sebuah buku yang ditulis oleh seorang penulis yang dikenal provokatif yaitu Eko Prasetyo.
Kitab pembebasan adalah sebuah buku yang dicetak ulang dengan sampul dan epilog yang berbeda. Buku tersebut menampilkan kisah-kisah dalam alquran dan dijelaskan dengan gaya yang berbeda.
Bersama Social Movement Institute, maka digelarlah diksusi sekaligus bedah buku yang menggambarkan perjuangan kaum muda dalam menghadapi rezim yang menindas rakyatnya, Minggu (18/9/2016).
Berlangsung di Toko Buku Diskon Toga Mas, Jalan Afandi Gejayan, diskusi tersebut dihadiri oleh Ustad Abu Tholut dan Gus Roy Murtadho sebagai pembicara.
Sebelum memulai pemaparannya, Ustad Abu menyebut bahwa penulis buku tersebut yaitu Eko Prasetyo layak disebut Ustad. Hal tersebut berkaca dari kisah pribadi penulis yang dituangkan dalam tulisan.
Seperti judulnya yaitu pembebasan, Ustad Abu menjelaskan tentang istilah pembebasan itu sendiri.
"Istilah pembebasan adalah membebaskan menghamba kepada makhluk yang lain dan hanya menyembah Allah," jelasnya.
Menurut Ustad Abu, di zaman sekarang kebatilan begitu merajalela dan mendominasi di negeri ini. Maknanya, kebenaran pasti sangat lemah karena tidak ada orang yang meyuarakan kebenaran.
"Nabi adalah seorang aktifis yang jiwanya ingin bebas dan mengajak orang lain bebas. Menyembah hanya pada Allah," tambahnya.
Kebatilan yang terjadi selama ini, lanjut Ustad Abu pasti ada hikmahnya yaitu Allah menunjukan kebesarannya Allah, ujian keyakinan bagi orang beriman, dan ujian ketaatan perintah Allah untuk melawan kedzaliman.
Sementara itu, Gus Roy menyebutkan bahwa narasi dari penulis kental dengan gaya propagandis. Gaya penulisannya pun meliuk-meliuk dalam menyampaikan gagasan.
Penulis dianggap sukses mengaktualisasi cerita-cerita Nabi dan bisa mendramatisir cerita tersebut.
"Para Nabi membawa kabar agung, punya legitimasi mengatakan benar dan salah. Selain mengabarkan kebenaran, juga mempunyai seni perlawanan. Terakhir, buku ini menghadirkan dan menarasikan bahwa Nabi adalah orang yang mau melubangi tatanan yang rusak dengan tatanan baru," jelasnya.
Gus Roy mengatakan bahwa Nabi adalah seorang pembangkang ketika keadilan tidak ditegakkan. Itu menjadi contoh bagi para kaum yang diinjak kebatilan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/kitab-pembebasan_20160919_093950.jpg)