Ledakan Simulasi di Batan

Ledakan itu berasal dari bom yang di bawa para teroris yang mencoba menyabotase reaktor nuklir di Batan Yogyakarta.

Penulis: akb | Editor: oda
tribunjogja/jihad akbar
Petugas melakukan dekontaminasi dengan air dan cairan khusus. 

TRIBUNJOGJA.COM, SLEMAN - Suara ledakan bom terdengar di seputaran Jalan Babarsari Depok Sleman, Sabtu (10/9) tepat pukul 10.00 pagi hari.

Suara menggelegar itu bersumber dari lingkungan kantor Badan Tenaga Nuklir Nasional (BATAN) dan Sekolah Tinggi Teknologi Nuklir (STTN-BATAN) Yogyakarta.

Puluhan orang tidak lama kemudian terlihat berhamburan keluar dari dalam gedung. Mereka berusaha menyelamatkan diri dari ancaman paparan radiasi nuklir yang berasal dari reaktor di dekat lokasi ledakan.

Beberapa orang juga terlihat memapah rekannya yang mengalami luka akibat ledakan itu. Ledakan itu berasal dari bom yang di bawa para teroris yang mencoba menyabotase reaktor nuklir di Batan Yogyakarta.

Bahaya radiasi nuklir yang bisa mencapai 200 meter membuat arus lalu lintas di Jalan Babarsari disterilkan.

Situasi itu menjadi pemandangan dari rangkaian simulasi penanganan kedaruratan pada kejadian bencana di kawasan nuklir Yogyakarta. Simulasi yang digalang BPBD DIY ini melibatkan pihak TNI, Polri, dan seluruh komponen penanggulangan bencana di DIY.

"Simulasi ini dilakukan untuk mensinergikan SOP (standar operasional) penangggulangan bencana akibat nuklir," ungkap Krido Suprayitno Kepala Pelaksana BPBD DIY.

Sebab, untuk penanganan korban radiasi nuklir ada SOP khusus dibantu dengan peralatan yang telah distandarisasi. Ia mengaku simulasi kali ini merupakan pertamakalinya dilaksanakan di Indonesia.

Beberapa menit kemudian terdengar suara sirine ambulan menggaung di sekitar lokasi ledakan. Namun pada rangkaian simulasi, tim penyelamat tidak langsung ke lokasi ledakan. Perlu puluhan menit dari ledakan hingga tim penyelamat datang.

Pada simulasi ini 28 orang berperan sebagai korban meninggal dunia akibat radiasi nuklir. Saat berlangsungnya penyelamatan korban, tim medis tidak seperti penyelamatan bencana biasanya.

Tim penyelamatan memakai baju yang menutup rapat seluruh bagian tubuh. Baju yang disebut coverall itu berwarna putih kemudian dipadankan dengan masker dan sarung tangan.

"Saat tindakannya, tidak boleh semua masuk dulu melakukan evakuasi," tegas Aris Bastianudin, Kepala Unit Jaminan Mutu Pusat Sains dan Teknologi Akselerator (PSTA) Batan Yogyakarta.

Pada penanganan bencana nuklir, ia menerangkan, lokasi bencana harus dicek terlebih dulu oleh tim proteksi. Tim yang mengusai teknologi nuklir itu akan memastikan potensi bahaya radiasi nuklir.

Tim proteksi akan melakukan pemeriksaan tingkat radiasi. Petugas dibekali alat survei meter untuk mengetahui tingkat radiasi tersebut. Setelah itu tim akan melakukan evaluasi lokasi bencana nuklir itu.

"Jika sudah dinyatakan aman, baru boleh tim penyelamat masuk ke dalam (area bencana)," ujarnya.

Sumber: Tribun Jogja
Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda
Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved