KOLOM 52
Yogya Overload Mal, Masih Perlukah Tambah Mal Lagi?
Mereka seolah tak bisa lepas dengan yang namanya mal, yang seakan menjadi bagian dari gaya gaul anak perkotaan.
Penulis: Muhammad Fatoni | Editor: Muhammad Fatoni
BERBELANJA, makan, ataupun sekadar jalan-jalan dan nongkrong di mal sepertinya kian menjadi gaya hidup warga urban, khususnya kalangan remaja.
Ya, mereka seolah tak bisa lepas dengan yang namanya mal, yang seakan menjadi bagian dari gaya gaul anak perkotaan.
“Nggak nge-mal, nggak gaul”. Doktrin semacam itu seolah mulai tenar dan menjadi salah satu prinsip hidup anak-anak kota.
‘Virus’ itupun tanpa disadari merambah ke Yogyakarta. Wajar, karena di kota ini banyak bermukim para pelajar yang berasal dari berbagai wilayah di Nusantara.
Mereka membawa gaya hidup dari daerah masing-masing, termasuk juga pola ‘nge-mal’ yang menjadi budaya anak-anak urban, semisal Jakarta, Surabaya, Bandung, Medan, Makassar, dan beberapa kota besar lain.
Kondisi tersebut ibarat menjadi umpan bagi para pengusaha kelas kakap, mereka melihat suatu peluang usaha baru. Berlomba-lomba bangun mal baru. Ya, itulah yang akhirnya terjadi di Yogyakarta.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/overload-mall-yogya_20160903_162219.jpg)