Breaking News:

Early Childhood Care and Development Resource Center Kenalkan Body Maping pada Anak Didik

Kegiatan ini dimaksudkan agar sejak dini anak-anak dapat menjaga tubuh mereka dan terhindar dari kekerasan baik psikis ataupun fisik.

Tribun Jogja/ Santo Ari
Early Childhood Care and Development Resource Center (ECCD-RC) berikan pemahaman dan pengenalan bagian-bagian tubuh kepada anak didiknya melalui program body maping, Jumat (19/8/2016). 

Laporan Reporter Tribun Jogja, Santo Ari

TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Early Childhood Care and Development Resource Center (ECCD-RC) memberikan pemahaman dan pengenalan bagian-bagian tubuh kepada anak didiknya melalui program body maping, Jumat (19/8/2016).

Kegiatan ini dimaksudkan agar sejak dini anak-anak dapat menjaga tubuh mereka dan terhindar dari kekerasan baik psikis ataupun fisik.

Putri Ayu Wulandari, koordinator acara dari ECCD-RC memaparkan pentingnya pengenalan tubuh untuk anak.

Walaupun tidak pembelajaran tidak menjurus ke pendidikan seks, tapi anak diberi pemahaman bagian-bagian tubuh mana yang sifatnya privasi.

"Jadi anak dikenalkan mana tubuh yang boleh dipegang, mana yang tidak boleh dipegang orang lain. Mana bagian tubuh yang harus ditutupi atau mana yang bisa dilihat orang lain," jelasnya.

Harapannya, apabila anak mengalami tindakan kurang nyaman dan menjurus ke bagian intim, si anak bisa menolak, boleh berteriak, berlari untuk kemudian melapor ke orangtua.

Upaya ini juga dapat membentengi anak mengalami tindakan kekerasan.

Karena keterbatasan proses pemahaman, maka pembelajaran dibagi sesuai dengan umur dan kelas mereka. Bagi anak umur dua hingga empat tahun yang masuk ke Play Group, pendidik memberikan permainan merangkai wayang orang.

Wayang tersebut berbentuk pria dan wanita. Di sana si anak akan menempel bagian-bagian tubuh hingga baju yang pas untuk di pasang di wayang yang mereka terima.

Sementara untuk anak usia empat hingga enam tahun yang masuk dalam TK kecil dan besar, pengenalan dengan cara menggambar tubuh di atas kertas dan dilakukans secara berkelompok.

"Seorang anak akan tidur di atas kertas, dan anak lain akan membuat garis sesuai bentuk tubuh anak yang tidur di atas kertas. Kemudian mereka akan diberikan kertas bulat sebagai penanda untuk ditempel ke kertas yang sudah tercetak gambar tubuh," jelasnya.

Kertas bulat berwana hitam sebagai tanda bagian tubuh yang pernah mengalami luka atau sakit. Kertas merah akan ditempel di bagian mana yang tidak boleh dipegang orang lain, sedangkan kertas berwarna merah muda ditempel di bagian tubuh yang mereka sukai.

"Respon anak sangat beragam, tapi semua dilakukan dengan fun karena pengenalan dilakukan dengan cara yang menarik dan seperti permainan," ucap Putri. (*)

Penulis: Santo Ari
Editor: Muhammad Fatoni
Sumber: Tribun Jogja
Ikuti kami di
KOMENTAR

BERITA TERKINI

© 2021 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved