Kepolisian Selidiki Informasi Hoax Pasca Pengamanan Asrama Papua
Tersebar foto di mana banyak pemuda Papua yang melakukan pembakaran di tengah jalan.
Penulis: Santo Ari | Editor: oda
TRIBUNJOGJA.COM, YOGYA - Pasca pengamanan asrama Papua di Kemasan, Jalan Kusumanegara, tersebar informasi dan foto-foto yang tidak diketahui kebenarannya.
Pihak kepolisian dalam hal ini Kapolresta Yogyakarta Kombes Pol Tommy Wibisono menegaskan bahwa berita dan foto-foto itu adalah Hoax atau palsu.
Tersebar foto di mana banyak pemuda Papua yang melakukan pembakaran di tengah jalan. Selain itu ada foto di mana seorang pemuda asal Papua dipiting dengan ditarik hidungnya dan diinjak kepalanya.
"Yang menggambarkan situasi Yogyakarta tidak aman adalah hoax. Kami juga heran kok ada foto (pemuda papua) hidungnya ditarik. Foto di media sosial yang bakar-bakaran juga hoax," tandas Kapolres, Selasa (19/7/2016).
Terkait hal itu, kepolisian sedang memburu penyebar berita hoax melalui media sosial maupun broadcast. Aparat menilai berita yang beredar di media sosial itu sangat menyesatkan dan sengaja disebar untuk memperkeruh keadaan.
Sementara itu, Karo ops Polda DIY Kombes Bambang Pristiwanto mengatakan bahwa langkah yang dilakukan pihak Polresta Yogyakarta dibantu Polda DIY adalah bentuk pengamanan unjuk rasa yang rencananya dilakukan oleh para mahasiswa Papua.
Tujuan dari pengamanan ini adalah menghalau gerakan yang berbau sparati, Papua Merdeka, memperlihatkan simbol OPM, hingga bentuk unjuk rasa dengan jalan kaki atau orasi di jalan.
"Maka kami menindak tegas dan tidak memperbolehkan ke luar asrama. Ini panggilan tugas kami. Ini berkat kesigapan personel. Tidak boleh ada bendera lain selain merah putih yang berkibar di negara Indonesia, apalagi di Yogyakarta. Jangan sampai kita di rongrong oleh sparatis," tegasnya.
Bambang menambahkan, dalam pengamanan kemarin pihaknya memang tidak mendapatkan simbol-simbol OPM atau papua merdeka.
"Pada saat kejadian tidak ditemukan, dan kami belum memeriksa sampai masuk asrama," ucapnya.
Dalam kesempatan itu, Bambang meluruskan bahwa pengamanan sembilan mahasiswa Papua merupakan bentuk pencegahan atribut dan benda-benda berbahaya masuk ke asrama.
Di perkampungan, belakang asrama petugas melakukan pemeriksaan terhadap sekumpulan pengendara motor yang merupakan mahasiswa dari Papua.
"Kami tidak melakukan sweeping, tapi melakukan pemeriksaan untuk mewaspadai benda-benda yang di bawa masuk ke asrama," tukasnya.
Namun dalam pemeriksaan itu terjadi insiden pemukulan yang dilakukan seorang mahasiswa Papua kepada petugas kepolisian.
"Sembilan orang diamankan, satu orang kami tetapkan sebagai pelaku yang melakukan pemukulan, sisanya hanya berstatus saksi. Pelaku pemukulan juga sudah mengakuinya, tidak kami tahan karena koorperatif dan ada yang menjaminnya, tapi dia kami kenakan wajib lapor," tambahnya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/jogja/foto/bank/originals/aksi-demo-papua-2016_4_20160715_192440.jpg)